August 03, 2013

Wacana di Waktu Fajar

Kali ini, aku sedang bahagia. Sepertinya kamu akan lebih faham. Aku bisa tertawa sendiri, menangis sendiri, jika kamu mulai lagi menari-nari di ingatan. Sedikit geli jika lagi dan lagi aku bercerita tentang kamu. Sedikit gombal jika terus dan terus aku bicara tentang rasa yang tak pernah enggan untuk engkau sapa. Ah, terlalu gila rasanya. Tapi memang ini nyata, lebih sekedar dari rasa sementara.

Mungkin, dalam detiknya aku bisa lupa. Tapi di menit kemudian aku kembali lagi. Pernah beberapa saat tertunda. Terselingi beberapa kisah lain yang tak pernah bisa benar-benar meng-enyahkan kita di kata dulu. Rasanya segalanya tak pernah berakhir, rasanya segalanya masih dalam lingkaran yang tak pernah berujung. Tapi semua hanya cukup rasanya dan sekedar aku saja yang rasa.

Di kali ini, waktu fajar. Setelah malam yang aku habiskan dengan mengunggah ingatan lalu. Dan baru selesai di fajar ini, diantara batasan malam dan pagi. Mengingatmu itu seperti mentari yang memberi rasa hangat yang luar biasa. Tapi juga ada bagian malam yang dingin beku saat aku mulai sadar itu telah jauh tiada.

Masihkah kamu tertarik dengan rasa yang tak pernah berani untuk kita rengkuh ? bukankah kamu sudah cukup waktu untuk berfikir, mencerna, kata yang katanya itu bukan sekedar kata sementara ?
tapi ternyata diam kamu itu memang sudah mendarahdaging. Ya, itulah kamu. Kamu yang selalu jadi Kamu dalam setiap ceritaku. Kamu yang selalu jadi mindset setiap bait hari-hariku. Kamu yang selalu jadi rindu. Kamu yang selalu jadi candu, Kamu yang cukup aku kenal dan selalu aku mengerti sendiri dalam malam. Dan ketika fajar datang, Kamu berakhir seperti mimpi malam yang selalu ingin aku ulang-putar ulang-lagi-lagi-dan lagi di setiap waktu tidurku.


Aku bisa cekikikan sendiri menyadari setiap wacana yang aku susun dengan rapih dan segalanya tetap dengan satu topik sama. Pernah sekali-kali, ah bukan sekali-kali, sudah sering aku berganti topic. Mencoba membuat skema yang lain, berandai-andai dengan mimpi yang lain, tapi tak seindah wacana yang aku rangkai dengan topik kamu. Bodoh sekali ya. Tapi tidak untuk setiap manusia yang sedang menikmati bahtera yang kata nya cinta. Tapi ini juga terlalu berlebihan jika aku menyebutnya bahtera. Bukankah bahtera itu tersusun dari komponen yang nyata ? tidak abstrak ? terlalu sekonyong-konyong aku menyebutnya bahtera jika yang ditemui hanya aku yang terus saja memelihara, mengutik yang lalu.

waktu fajar ini, benar-benar membawaku dalam satu kabut. Menyudutkan. Lalu menghempas. Aku sadar, dan kembali lagi aku tersadar. Ini sekedar waktu yang diberikan untuk mengingat, bernostalgia begitu kata setiap para remaja.


Sudahlah tak baik berlama-lama dengan yang lalu-lalu. Seindah-indahnya itu tepat punya waktu yang berbeda. Dulu dan sekarang memang punya dua sekat yang berlainan. Tapi ku harap tidak dengan hatimu. Sedemikian lah Fajar ini aku lalui dengan mengunduh kamu, merenggutmu paksa masuk dalam imajinasiku. Di waktu fajar ini, dan akan berakhir saat mentari mulai memintaku kembali. Kembali pada waktu sekarang yang sebenarnya masih ingin kusertakan namamu dengan pantas dan jelas.


Klik Sumber Gambar



No comments:

Post a Comment