April 15, 2014

12:30:00 PM 0

Komentar tentang, sebut saja "si A"

“Invite-message-call-konflik-delete-invite-message-call-konflik-delete”

Itu contoh skema kehidupan. Dengan melihat beberapa sumber yang saya perhatikan akhir-akhir ini. tidak sedikit orang yang tertarik di awal, berkenalan, mendekat, bercerita seolah-olah “mengenal”, ada masalah, limbung, lari, setelah itu pergi, delete, dan tidak saling mengenal (lagi).

Apa hidup itu hanya untuk menemukan lalu pergi setelah berselisih paham ?
lalu siapa yang akan tetap tinggal ? dimana keutuhan ? 

Dari tahun kemarin saya memilih satu subjek. Sebut saja si A. si A yang bisa dengan mudah berbaur. Menemukan yang dia cari yang diawal si A begitu yakin “ini nih yang gue cari”. Tidak berselang beberapa bulan si A limbung dan merubah persepsinya “gue gak cocok. Doi terlalu bla-bla-bla” dan akhirnya delete.

April 12, 2014

10:59:00 AM 1

Panggil saja "rasa nyaman"

klik sumber gambar

Satu cerita. Hidup memang di jalani untuk satu cerita. Cerita kita, cerita kamu, dan juga cerita saya.

Pernahkah kita menggarisbawahi beberapa label sebagai syarat untuk memasuki ranah privasi kita ? Mungkin lebih tepatnya kita akan menggolongkan beberapa jenis manusia di sekeliling kita. Misalnya, ada yang kita kenal cukup sebagai teman, atau lebih jauhnya sebagai sahabat, bahkan keluarga. Atau lebih singkat dari itu, hanya saling punya slogan "nama" terlebih itu cukup dengan sapaan ringan. Oke, kita masuk kelebih dalam. Sekiranya cukup tadi itu intronya.

 Pernah kalian tiba-tiba bertemu satu orang yang bahkan anda tidak begitu mengenalnya, tapi secara tiba-tiba menyentuh ranah privasi anda dengan slogan 'nyaman' .