April 15, 2014

Komentar tentang, sebut saja "si A"

“Invite-message-call-konflik-delete-invite-message-call-konflik-delete”

Itu contoh skema kehidupan. Dengan melihat beberapa sumber yang saya perhatikan akhir-akhir ini. tidak sedikit orang yang tertarik di awal, berkenalan, mendekat, bercerita seolah-olah “mengenal”, ada masalah, limbung, lari, setelah itu pergi, delete, dan tidak saling mengenal (lagi).

Apa hidup itu hanya untuk menemukan lalu pergi setelah berselisih paham ?
lalu siapa yang akan tetap tinggal ? dimana keutuhan ? 

Dari tahun kemarin saya memilih satu subjek. Sebut saja si A. si A yang bisa dengan mudah berbaur. Menemukan yang dia cari yang diawal si A begitu yakin “ini nih yang gue cari”. Tidak berselang beberapa bulan si A limbung dan merubah persepsinya “gue gak cocok. Doi terlalu bla-bla-bla” dan akhirnya delete.
 Di bulan berikutnya si A kembali menemukan mainannya yang baru dan kembali berkata mantap “akhirnya gue nemuin juga” selang beberapa bulan, setelah si A disibukkan mainannya, dia  kembali berargument “ah.. doi monoton. Gue bosen”. Lanjut sampai seterusnya.

Apa hidup itu hanya untuk seperti itu ? lalu sampe kapan ? sampai jenuh ? bagaimana keadaan korban-korbannya yang mungkin sudah berbuat banyak untuk mempertahankan keutuhannya. Bukankah setiap manusia punya hati ? lalu dimana letak hati mereka ? yang bisa dengan bebas memilih, memainkannya, dan membuangnya. Menurut saya bukan seperti itu.

Ah, mungkin belum ketemu karma saja. Atau karma memang berteman baik dengan mereka ? mendukung setiap aksi mereka ?

Sudah lah. Tak penting. Mungkin itu hanya perihal tentang pilihan jalan hidup saja. Biarlah. Toh jadi baik atau buruk, diri sendiri yang akan bertanggungjawab.

Mungkin tidak semua orang yang memahami sisi kebaikan dengan baik dan sisi keburukkan dengan baik pula. Mungkin ada batas kewajaran berbeda. Mungkin.


No comments:

Post a Comment