May 19, 2014

12:50:00 PM 0

Wake-up !

Saya Fikir jika berjalan lurus terus nanti juga nemuin cahaya, dari pada belok dan tau-taunya malah mentok. Tapi setelah berjalan terus, cahaya itu masih belum Nampak. Atau bahkan tak kan pernah Nampak. Saya kira, memang perlu berbelok atau banting stir. Saya benar-benar tersesat.
 *


             Setelah melewati sepanjang minggu dengan nonton korea. Duduk di depan tv, makan, dan tidur. Saya kira hari senin akan jauh lebih baik. Begitukah ? saya suka sekali menonton drama korea. Bukankah dengan melakukkan apa yang kita sukai bisa menjadi moodboster ? tapi kali ini, saya gagal. Menonton serial drama korea tak cukup. Senin ini masih kurang bergairah.

             Mungkin weekand nanti, saya akan mencoba datang ketempat spa dan relaxation. Saya benar-benar butuh penyegaran. Semuanya benar-benar menyedot pikiran saya. semua aura negative benar-benar ada dalam diri saya. saya butuh penyegaran. Benar-benar butuh penyegaran.

             Kali ini mungkin yang benar-benar namanya “hidup tapi seperti tak hidup”. Dari bulan-bulan ini, mungkin teman terdekat saya merasa sulit menghubungi saya begitupun keluarga. Entah, saya tidak sedang menghindar dari siapapun. Tapi saya sedang asyik dengan melamun. Saya selalu asyik sendiri. Entahlah saya siapa ? saya lupa bagaimana diri saya sebenarnya. Seperti apa saya ? saya lupa !



              Rupanya saya benar-benar akan kehilangan semuanya jika terus seperti ini. sebelum itu terjadi, saya benar-benar butuh pembangkit mood yang berkekuatan extra. Entah bagaimanapun. Entah dengan teriak di karaoke, menjalani long trip, atau menghabiskan sepanjang hari dengan pijatan ringan di salon. Whatever, I must wake-up.

Klik Sumber gambar

May 17, 2014

Random; ampas kopi !

Klik Sumber Gambar
             Seandainya tiga tahun lalu saya menolak, mungkin bukan seperti ini, persoalannya tidak sepelik ini, tidak serumit ini. Seandainya saya mendengarkan apa kata orang tua saya, untuk tetap tinggal di Cilegon, mencari sekolah disana dan bekerja disana, mungkin semua gak akan seperti ini. tiga tahun. Sudah tiga tahun rupanya saya tinggal di Jakarta. Bersatu dengan beribu-ribu orang dari berbagai suku bangsa. Saat itu usia saya masih 18 tahun, saat saya menginjakkan kaki di Jakarta. Dulu sewaktu kecil, sekalipun saya sering berkunjung ke Jakarta tidak ada sedikitpun impian untuk tinggal lama di kota besar ini. dulu saya lebih ingin kembali ke Cilegon, Banten. Kota kelahiran mamah. Saya lebih ingin tinggal di desa Cakar, tepat di kaki gunung (saya lupa namanya). Disitu mamah masih punya hak rumah dari orangtuanya yang sekarang ditempati oleh wa emus (saudara laki-laki mamah). Sebelumnya saya ingin kembali kesana, setidaknya disana lebih damai dari pada di Majalengka apalagi di Jakarta. Disana wa emus juga mendirikan pondok ngaji untuk anak-anak sampai dewasa. Suasana yang masih jauh dari perkotaan. Angkutan umum yang masih jarang dan samasekali tidak ada yang beroperasi di waktu malam. Orang-orang disana sopan, dan tentunya sangat taat beragama. Benar-benar suasana yang menyuguhkan ketenangan bathin. Tapi saat hari kedua saya menginjakkan kaki disana, memutuskan untuk menghabiskan liburan pascah ujian sambil mencari lowongan dan sekolah yang lebih lanjut, kabar itu datang. Di mulai dari malam itu, malam di mana tante saya yang di Jakarta menawarkan pekerjaan di tempat suaminya. Malam itu, saya memutuskan untuk hidup di Jakarta.

May 16, 2014

Random; bad time !



Klik sumber gambar



Malam..

Apa kabar ?

Malam ini di kota saya sedang tidak ada bintang, mungkin langit sudah bosan terus saja menerangi malam yang tak pernah seterang siang. Ah, tapi rasanya bukan seperti itu. Mungkin mereka sedang berselisih paham. Hanya untuk malam ini, bintang tak bisa disisinya. Mungkin hanya malam ini. Butuh waktu untuk berpikir tentang kesetiaannya yang kekal. Butuh waktu untuk mencerna setiap kepekatannya yang tak pernah berniat memberi ruang untuk pagi. Tapi takdir mereka indah. Selalu di pertemukan kembali setelah satu malam saling sendirian. Takdir mereka memang menjadi paketan yang tak pernah bisa saling dilepaskan. Setelah habis beberapa malam berselisih atau bahkan kedua-duanya saling menangis, membuncahkan ribuan rintik  anak sungai ke bumi, setelah itu malam berikutnya akan lebih sempurna dengan perdamaian.

Bagaimana dengan kotamu ? 
lebih spesifiknya dengan rumahmu? 

May 09, 2014

12:21:00 PM 0

Siang

Siang.
Waktu di tempat saya sedang menunjukkan pukul 12:00 kurang sepuluh menit. Di luar sedang panas-panasnya. Matahari bersinar terlalu bersemangat. Harusnya ini waktu makan siang, tapi saya memilih duduk di depan computer menunggu giliran. Ya, tepatnya karena kurang orang. Jadi saya memilih menunda makan siang dan menggantinya dengan jam makan sore misalnya. Jarang sekali saya menunda jam makan kecuali lain hal kalo lagi puasa ya.

Waktu.  Lucu. Waktu itu memang obat paling mujarab dalam segala hal. Dalam menetralisir segala bentuk perasaan. Rasa benci, suka, sayang, sedih, kecewa, ah semuanya, bisa kita serahkan. Waktu cukup baik untuk menjadi seorang teman. Bercerita misalnya. Meskipun tak jarang waktu tak pernah ingin mengerti sedang dalam posisi apa kita. Waktu. Iya. Waktu memang selalu menjadi obat untuk luka. Menyerahkan pada waktu selalu menjadi alternative terbaik.


May 04, 2014

12:50:00 AM 0

Pilihan Besar


klik sumber gambar
Hidup memang tentang pilihan-pilihan besar.
Tidak ada yang gratis untuk sebuah kebahagiaan.
 Semua selalu punya pilihan dan kesempatan.


Itu simpulan percakapan malam ini. Dia berkata tentang perubahan besar masa depan saya. Namun ada bayaran seumur hidup untuk semuanya "balas budi". Siang tadi saya baru usai menulis note, menceritakan keajaiban, menceritakan janji kebahagiaan. Malam ini setelah mendengar detailnya, saya merubah kata "keajaiban"itu. Sedikit menggesernya beberapa senti dari puncak. Tapi bukan tak benar dengan kekuatan do'a yang dengan semangat saya kibarkan siang tadi. Hanya saja saat itu saya terlalu polos. Tidak ada yg gratis. Itu lebih realistis.

May 03, 2014

KEKUATAN DO'A

03 mei 2014

15:43

Ini keajaiban pertama.

Ini berita kejaiban pertama setelah hampir tiga tahun saya bersabar.



               Tepat hari ini saya mendengar kabar yang sangat-sangat membahagiakan. Ini tentang mimpi saya tiga tahun silam. Tentang doa-doa yang saya panjatkan dalam tiga tahun terakhir. Tidak tepatnya 1 tahun pertama saat saya menginjakkan kaki di Jakarta. Aah, saya tak bisa menjelaskan mimpi seperti apa yang sebentar lagi bisa diwujudkan. Yang saya ingin bagikan disini adalah tentang KEKUATAN DO’A dan KEAJAIBAN DARI SEBUAH KESABARAN.
               Tiga tahun lalu saya punya mimpi besar. Ya cukup besar untuk orang kecil seperti saya. terlalu besar untuk seorang anak yang di lahirkan di tengah keluarga yang sederhana. Sangat-sangat sederhana. Mungkin bagi orang yang berkecukupan mimpi saya, hanya mimpi biasa saja. Bahkan bukan mimpi mungkin jadi sebuah keharusan untuk beberapa golongan diatas kemampuan keluarga saya. tapi saat itu saya memang PEMIMPI.