May 17, 2014

Random; ampas kopi !

Klik Sumber Gambar
             Seandainya tiga tahun lalu saya menolak, mungkin bukan seperti ini, persoalannya tidak sepelik ini, tidak serumit ini. Seandainya saya mendengarkan apa kata orang tua saya, untuk tetap tinggal di Cilegon, mencari sekolah disana dan bekerja disana, mungkin semua gak akan seperti ini. tiga tahun. Sudah tiga tahun rupanya saya tinggal di Jakarta. Bersatu dengan beribu-ribu orang dari berbagai suku bangsa. Saat itu usia saya masih 18 tahun, saat saya menginjakkan kaki di Jakarta. Dulu sewaktu kecil, sekalipun saya sering berkunjung ke Jakarta tidak ada sedikitpun impian untuk tinggal lama di kota besar ini. dulu saya lebih ingin kembali ke Cilegon, Banten. Kota kelahiran mamah. Saya lebih ingin tinggal di desa Cakar, tepat di kaki gunung (saya lupa namanya). Disitu mamah masih punya hak rumah dari orangtuanya yang sekarang ditempati oleh wa emus (saudara laki-laki mamah). Sebelumnya saya ingin kembali kesana, setidaknya disana lebih damai dari pada di Majalengka apalagi di Jakarta. Disana wa emus juga mendirikan pondok ngaji untuk anak-anak sampai dewasa. Suasana yang masih jauh dari perkotaan. Angkutan umum yang masih jarang dan samasekali tidak ada yang beroperasi di waktu malam. Orang-orang disana sopan, dan tentunya sangat taat beragama. Benar-benar suasana yang menyuguhkan ketenangan bathin. Tapi saat hari kedua saya menginjakkan kaki disana, memutuskan untuk menghabiskan liburan pascah ujian sambil mencari lowongan dan sekolah yang lebih lanjut, kabar itu datang. Di mulai dari malam itu, malam di mana tante saya yang di Jakarta menawarkan pekerjaan di tempat suaminya. Malam itu, saya memutuskan untuk hidup di Jakarta.


               Lucu. Saya keluar dari rumah dengan tujuan berlibur di Banten akhirnya hanya bisa berlibur empat hari saja. Setelah itu saya langsung berangkat ke Jakarta, tanpa kembali ke Majalengka. Hari pertama saya di Jakarta, saya masih riang. Jujur, saya terpikat dengan gedung-gedung pencakar langit yang dibangun bagi mereka yang siap mewujudkan mimpinya sampai ke atas langit. Saya terpikat dengan segala macam tempat yang belum pernah saya sambangi (maklum anak kampung masuk kota). Keadaan berlanjut. Hari terus berganti. Berbagai masalah mulai datang. Pilihan-pilihan besar mulai berdatangan. Konsekuensi pahit mulai merengkuh berniat mendewasakan. Sejak saya keluar dari rumah, sejak itu pula saya mantapkan. Dimanapun saya nanti akan tinggal, seberat apapun hidup saya di luar sana, saya akan kembali ke rumah hanya dengan kabar bahagia. Inilah resiko dari si anak rantau yang mencoba berani. Berusaha menembus terik sekalipun tanpa alas kaki.
               Ya, sudah tiga tahun berlalu saya di Jakarta, sekaligus sudah mau genap tiga tahun saya bekerja di Sini. Suka, duka, pahit, getirnya sudah saya rasa. Pulang sore sampai pulang malam sudah saya sambangi. Berangkat terbit sampai pulang saat kelelawar keluar kandang sudah saya lakoni. Di injak, di judge, di khianati, sudah pula saya lewati. Disini, di Jakarta. Memang Jakarta kota yang kejam. Dan mungkin ini bulan-bulan paling menyedihkan bagi saya di kota ini. tidak ada satu alasanpun untuk mempertahankan toh smua benar-benar sudah sirna sampai sempat saya berfikir mati. Tapi tidak. Tiga bulan perbandingan dengan tiga tahun, saya harap kesabaran saya masih tersisa. Di banding dengan tiga tahun itu, sungguh tiga bulan sudah tidak ada arti. Setelah tiga bulan itu, saya akan benar-benar menjadi saya. saya yang mau melangkah kemanapun sesuka hati saya. yang bisa memilih apapun. Dan tentunya bisa mencari jalan bahagianya sendiri. Tak peduli lagi apa kata orang. Yang tertinggal hanya tinggal kata hati saya sendiri.
               Saya harap waktu bisa bergerak lebih cepat dari biasanya. Menjemput harapan yang terbenam dalam. saya harap masih bisa menemukan alasan untuk tersenyum setelah pahit mendidik. Sudah cukup. Saya rindu tiga tahun lalu, masa bahagia saya sebelum ini. sebelum saya menginjakkan kaki di Jakarta. Sebelum saya memutuskan untuk keluar dari rumah, sebelum saya memutuskan untuk menutupi semuanya dari mamah.
 Saya masih ingat dengan tiga tahun sebelum ini. Saat itu saya masih masih duduk di bangku SMA. Sungguh tahun-tahun yang sangat indah. Punya sahabat yang selalu membuat saya tersenyum di sekolah. Dan punya tempat pulang terhangat di rumah yaitu sebuah keluarga. Masa SMA itu masa yang penuh kebodohan. Namun karena kebodohan itu juga  yang menjemput kebahagiaan yang tanpa alasan. Hari ke hari berjalan begitu cepat. Di sekolah, maupun di rumah, keduanya sama-sama syurga. Syurga bagi setiap manusia adalah selalu berada dekat dengan mereka yang menyayangi kita tanpa alasan. Mereka yang siap membuat kita tertawa, dan menyeka setiap air mata. Masa-masa itu, masa-masa yang tidak pernah ada gurat kesedihan. Selalu tertawa, riang. Tidak peduli dengan masalah, semua biarlah berjalan sebagai bumbu. Hanya sebagai bumbu. Tapi waktu memang selalu jadi pembatas atas segalanya. Masa-masa itu juga kini terbatasi oleh kedewasaan yang disertai persoalan-persoalan pelik.

Aah. Lelah rasanya. Sudahlah. Semoga Saya masih punya sisa kekuatan untuk melalui tiga bulan ini. semoga. 

Keep trying to find the right path. Remember that the right path not always on  the right side, but sometimes on the left side. Keep trying and always open your mind, there are a lot of chance and possibilities.



No comments:

Post a Comment