August 25, 2014

Re-mind !


Saya benar-benar belajar banyak.
Sekarang saya paham, saya mengerti. Saya tidak akan menggampangkan lagi posisi kamu. Kamu semua yang pernah patah secara tiba-tiba dan di tinggilkan pergi begitu saja dengan ribuan mimpi-mimpi itu. Tanpa haluan lagi dan terombang ambing seperti itu, iya karena kamu sudah menyerahkan kemudimu padanya tapi sekarang dia terjun menjauh dari kemudi. Kamu yang duduk nyaman di belakang dan terlanjur nyaman dengan posisi itu hanya bisa terpana, dan membiarkan kemudi berjalan seadanya. Tertabrak-menabrak-ditabrak; kamu biarkan seadanya.

Mungkin jatuh saja tidak cukup bagi kamu untuk pergi dan berlalu. Tidak. Kamu harus Jatuh sampai ke dasar dengan disertai timpaan tangga bertubi-tubi sampai kakimu patah, biar. Biar kamu sadar. Sadar dan paham bangaimana sulitnya berdiri dengan kedua kaki yang sempat patah. Biar, biar kamu rasakan bagaimana mengumpulkan lagi mimpi yang sudah tuntas tanpa pernah menjadi nyata. Mengumpulkan lagi keberanian untuk tidur dan bermimpi lagi, mengumpulkan kepercayaan bahwa bermimpi terlalu tinggi tidak hanya untuk bangun lalu terjatuh. Biar, biar jatuhnya kedasar sendirian membuat kamu mengoreksi penyebab lukamu sendiri. Menangislah, mengumpatlah, sampai sesak itu hilang tertimbun amarah. Setelahnya biar lukamu mendewasakan. Mengajarkan lebih dari pada saat kamu berdiri sampai berjalan lalu terbang. Biar bau tanah ini kelak mengingatkanmu bagaimana kamu terkapar tanpa daya, termakan hari yang tak pernah ingin berbagi.

Kadang memang kamu perlu disia-siakan lalu di hancurkan. Agar kamu ingat sulitnya merapikan lagi kepingan-kepingan yang tergeletak tak karuan. Memang mungkin harus seperti itu. Agar kelak kamu lebih menghargai dirimu, tidak seonyong-oyongnya menyerahkan perasaanmu pada mereka yang salah. Pada mereka yang hanya ingin mencicipi singgasana hatimu lalu pergi meninggalkanmu tak peduli. Memang pelajaran selalu kejam untuk membuat mengerti apalagi paham.

Sekarang saya paham.

Kamu yang sudah dengan yakin ada jalur yang benar lalu begitu saja terpanting ke sebelah arah yang salah. Dengan seketika. Kamu yang begitu yakin itu bukan sekedar mimpi, tapi juga susunan partikel yang bagian dari kenyataan. Lalu tiba-tiba tergerus oleh nyatanya kenyataan. Tidak ada tangis, tidak ada juga umpatan. Itulah sakit sesungguhnya. Kamu terlalu sibuk berdiskusi, menciptakan monolog dengan nada meyakinkan “benarkah, nyatakan ? atau ini hanya mimpi”. 


Sekarang saya tak bisa menyemangatimu dengan kata-kata “sabar dan selalu sabar”. Karena saya tahu, yang dibutuhkan bukan hanya kesabaran untuk menghadapi kenyataan yang sudah meluluhlantakkan mimpimu sampai tak tersisa. Bukan hanya itu. Kamu perlu ketenangan dan rasa menerima. Kamu perlu jiwa besar dan kelapangan untuk membalas semuanya dengan senyuman.

Sekarang saya mulai belajar banyak seperti kamu.

Kadang kita harus di bohongi habis-habisan agar kelak saat ingin menjatuhkan sebuah kepercayaan harus di filter ulang. Agar kelak tidak semua orang bisa kita sandarkan sebuah kepercayaan.

Kadang kita harus patah sepatah-patahnya sampai menjadi partikel-pertikel yang sulit direkatkan agar kelak kita bisa menghargai setiap kepingan hati kita. tidak begitu saja memberikannya kepada mereka yang tidak tau bagaimana dan siapa keterangan lanjutnya.

Saya benar-benar mengerti.


Betapa waktu benar-benar tajam ketika dihabiskan dengan potongan-potongan kisah. Betapa tidak sedikit orang terseret dan tidak mampu berjauhan satu sama lain, karena sudah banyaknya waktu yang terlewati. Kebersamaan dalam lingkaran waktu; suka duka tak pernah jadi hal lain saat hati menyatu. Saya tidak ingin mengabaikan waktu dan penggalan kisah lagi. Karena bagaimanapun, waktu itu tajam. waktu selalu punya andil besar. Semakin lama dan semakin panjang, semakin dalam juga bekas lingkaran kebersamaan.

Saya tidak ingin lagi mengataimu lagi. Saya bersyukur mengenalmu dengan cepat. Dengan begitu dengan cepat pula terjatuh dan belajar. Jatuh semuda mungkin, pahit semuda mungkin, agar esok lebih hati-hati. saya benar-benar bercermin, mengoreksi, dan kamu yang mengajarkan. teriamakasih... dongrak paling kuat bagi saya untuk memperbaiki diri sendiri. cermin paling nyata untuk membenahi pribadi.

klik sumber gamabr


Sekarang saya mengerti.

Sekarang saya belajar. 

Sekalipun terlempar begitu keras, saya akan bangun dengan cepat. Percayalah,,,,




Tuhan punya cara sendiri untuk mengajarkan,
sekalipun keras,
percayalah itu cara terbaiknya mengartikan sebuah ketegaran





No comments:

Post a Comment