August 14, 2014

The Right One



“jangan menikah karena mencintainya, menikahlah karena kamu merasa syurga Allah lebih dekat ketika bersamanya”


               Itu chapters of secret pembuka wacana pagi. Masih dengan kepulan asap di atas cangkir putih tulang itu. Mata yang masih terkantuk-kantuk di depan monitor yang 180 derajat lebih antusias. Mendung dan berkabut, seperti itu kota saya pagi ini. Saya penjelajah lini setiap pepatah. Menerobos lemah dan menuntas sudah jera. Namun alnya saya lebih di propagandakan oleh hasrat yang memakai imbuhan “cinta”. Mungkin saja. Tapi mendengarnya, rasanya ingin mencibir. Cikal bakal catatan romantis pagi pertama di bulan agustus ini. bersama sederet rutinitas juga rasa jenuh dalam kotak yang tidak pernah terisi penuh. Melampaui batas setengah saja sudah bersyukur. Setengah laginya biar bunyi Palu dariNYa yang memberi isyarat.

               Bagi saya, hati bisa di kemudikan. Bisa berhenti, melaju dengan kecepatan tinggi, melamban, atau mundur. Tergantung bagaimana padanan situasi. Setahun terakhir ini kotak itu kosong, tidak pernah terisi yang menjadi buah bibir anak-anak muda. Mungkin saya sudah jemu. Karena toh cinta dan mencintai hanya seperti rutinitas dan tuntutan hak dan kewajiban. Bagi saya cinta bukan hal pokok untuk sebuah rutinitas baru yang akan di abdikan. toh cinta bisa tumbuh, berkembang dengan pupuk yang tepat juga tempat yang tepat. Begitulah kiranya. kalo kata para pujangga si “cinta itu bisa datang karena terbiasa” yaa. Untuk itu, saya sering men-skat siapa yang harus masuk dan membiasakan diri dengan hidup saya, karena saya tidak mau memupuk bunga yang hanya akan jadi parasite di taman.

               Tuhan saya tau, bagaimana cara terbaiknya untuk memberi pelajaran atau mengajarkan. Begitulah simpulan yang pas saat kita bertemu dengan seseorang. Tidak semua orang yang kita temui bisa dijadikan “The Right One”. Mungkin saja Tuhan sedang mengajarkan kita bagaimana menghargai, mengasihi, mengikhlaskan, merelakan, dan sederet nilai positif lainnya. Semua punya kadarnya.    Itulah sebabnya pencarian panjang ini terjadi. Karena toh, hati akan lebih tau dimana sepantasnya dia berlabuh. Tetap buka mata, telinga, dan tentunya hati. Biar semua yang dirasa, dilihat, dan di dengarlah yang memberikan pertimbangan apakah “the right one” itu sudah ditemukan, atau justru masih perlu berlayar lagi ?

               Kebersamaan itu bukan hanya tentang sebuah “status” bukan juga tentang selalu ada dalam senang atau susah. Tapi juga tentang ketenangan, dan kemantapan hati. Yang saat di dekatnya, kita merasa damai. Yang melangkah bersamanya, kita selalu menuju kebaikan. Yang berbagi dengannya, menenangkan. Yang melihatnya, kita mendapat kemantapan tanpa perlu penjelasan. Masalah “cinta” itu akan tumbuh mengikuti dengan keterbiasan. Keterbiasaan yang menuju pribadi lebih baik lagi. Mungkin pertanyaannya Dimana ? dimana ? entah saya juga tidak tau pasti. Tapi selama anak-anak doa tak pernah patah, selama sujud dan petunjuk masih dalam jangkauan tangan menengadah, yakinlah kelak akan ada jawaban pasti.




diantara pagi yang masih seperti malam.
bersama sederet nama yang dibiarkan mengendap, hilang !



No comments:

Post a Comment