August 16, 2014

Tolong, jangan menangis lagi !

klik sumber gambar



“jangan menangis, saya mohon jangan menangis lagi”

               Mata itu panas. Selesai bercerita selalu berakhir dengan menangis. Setelah tercabik-cabik dengan kenangannya, setelah sesak yang begitu panjang dia selingi  dengan senyuman itu. Sekalipun saya tahu, itu hanya senyum seadanya, tidak seterbuka dan sebebas dulu. Iya dulu. Sebelum masadepan mencandainya begitu dalam. sebelum pahit dan nanar mengajarkannya hingga di dasar. Jangan terlalu di bawah sayang, mari bangkit !

               Setelah mimpi demi mimpi diberikan bertubi-tubi, seperti tidak pernah di ijinkannya celah kenyataan itu merenggut semua bagian dari hatinya. Setelah keyakinan di beri utuh tanpa sedikitpun celah untuk keraguan, sampai akhirnya di luluhlantakan oleh kebohongan. Disanalah kekecewaan berperan, mengambil alih kemudi, berputar, dan hilang kendali. Sudah tidak ada sepotongpun, ini berakhir dengan partikel-partikel hati yang sulit di rekatkan kembali. Tidak penah sedikitpun terlintas di pikirannya semua berakhir seperti itu. Takdir benar-benar sedang menggurui begitu dalam juga kejam. Menyeretnya jatuh dari semua bintang harapannya, tidak ada yang tersisa kecuali dirinya sendiri yang disadari masih rapuh.


               Saya benar-benar muak dengan semua janji-janji yang diucapkan mulut jalang itu. Semua mulut jalang yang tak pernah punya daya fikir bagaimana dan apa. Entah manusia macam apa yang harus di jatuhi sesal dahulu baru tahu rasanya “merasa bersalah”. Haruskah seperti itu ? haruskah ada korban dahulu, membuat jalan tangisan dulu, haruskah ada memar dulu ? kenapa ? tolong jangan pernah buat air mata lagi. Tolong!

               Saya ingin memeluknya dengan sepenuhnya, saya menggigil mendengar cegukannya. Terlalu sakit. Iya. Terlalu banyak janji yang harus dia tagih atau sekedar dia lepaskan tanpa harus mengikatkan dirinya. Tuhan, saya tak ingin melihatnya menangis. Dia terlalu baik, sungguh terlalu baik.

               Tahun yang berganti tak pula ikut serta mengobati luka itu. Sesayup kabar angin saja langsung meluluhkannya lagi, tak tersisa, jatuh ke titik awal, dan kembali menjadi tahun-tahun yang sia-sia. Tolong, jangan menangis lagi. Berapa kata yang dia ucapkan, kadang diselingi senyuman. Saya tahu itu hanya selingan kecil di tengah lolongan kesakitan itu. Saya tahu.

               Tolong, jangan buat dia menangis lagi.


           Bangkit untuknya begitu sulit, setelah dia berdiri dan berjalan beberapa inci kedepan, tolong jangan gugat dia untuk kembali, apalagi hanya untuk menangis. Jangan. Tolong jangan lakukkan itu. Lagi, Lagi, dan Lagi.


untuk kawanku, tolong jangan menangis lagi.
pelangi menantimu di depan, jangan berpaling lagi kebelakang.



No comments:

Post a Comment