September 25, 2014

Lebih dari Berfikir...

Apa yang sedang saya pikirkan ? Banyak.
Banyak sekali.

Saya memikirkan besok, sebulan kedepan, tahun depan, sampai sepuluh tahun kedepan. Apa sejauh ini saya sudah melakukkan yang terbaik, memilih yang terbaik. Apakah saya tidak akan menyesal nanti dengan pilihan-pilihan sekarang ini. Dan apakah dengan jalan yang saya pilih, akan membuat saya mendapatkan mimpi-mimpi saya ? Apa saya sudah cukup dan bisa mengambil resiko lebih untuk pilihan lain dan keluar dari zona nyaman ? Apakah kelak anak-anak saya akan bercerita bangga memiliki ibu seperti saya ? Apakah kelak suami saya akan bangga memiliki seorang istri seperti saya atau justru sebaliknya? Apakah saya sudah melakukkan yang terbaik sampai sejauh ini ? Apakah saya sudah menjalankan cerita Tuhan berdasarkan alurNya. Ya Tuhan banyak sekali yang saya fikirkan.

September 23, 2014

11:31:00 AM 0

Pulang

Maaf aku kembali untuk ke berapa kalinya. Yang jelas ini bukan kali pertama, kedua, atau ketiga.
Maaf aku mengusikmu untuk berulang kalinya, mencari celah kelengahanmu lagi. Berharap kamu akan jatuh cinta lagi.
Maaf aku menggodamu lagi, merajuk manja lagi, berusaha menarik mu lagi. Memintamu mencintaiku lagi.
Maaf aku selalu kembali padamu, hanya setelah dunia berpaling dariku. Hanya kala itu.
Maaf aku selalu ingin bersama mu lagi, hanya ketika mereka menjatuhkanku. Hanya saat itu.
Maaf aku datang lagi. Berbagi tawa lagi, dan aku harap kamu akan jatuh cinta dengan ceritaku lagi.
Maaf aku memelukmu lagi. Erat terutama saat aku menjatuhkan seluruh letihku di dadamu. Yang ku harap kamu bersedia menenangkanku lagi. Setelahnya kita kembali. Jatuh cinta.
Maaf aku harus kembali pergi (lagi). aku sudah tenang, dan dunia sudah mendekapku indah (lagi). dan kamu ku biarkan jatuh cinta berulang-ulang hanya untuk melihatku pergi (lagi).

September 19, 2014

Si Hitam dan Si Putih

klik sumber gambar
Yang satu kulit hitam, yang satu kulit putih. Mereka berhasil memebesarkan 3 anak membanggakan. 2 anak si hitam dan satunya si bungsu kulit putih.Betapa kontrasnya perbedaan  dalam keluarga itu. Saat jalan beriringan, makan di meja makan, bermain di taman, dan banyak hal lainnya. Tapi lihat, perbedaan tak menjadi alasan perpecahan mereka. Mereka menyatu, memahami, sekalipun ada ejekan2 kecil tapi semua hanya sebatas hiburan, tidak pernah jadi perang nyata. Itulah. Setiap saya melihat si sulung kulit hitam menggendong si bungsu kulit putih, menciumnya, mengajaknya tertawa bersama, sungguh ibu dan ayahnya sudah sangat berhasil menanamkan sebuah toleransi sejak dini.

September 13, 2014

Happy Being Me


“jangan gantungkan kebahagianmu kepada siapapun atau apapun. Karena jika sumbernya hilang, maka tubuhmu akan terjatuh dan tak pernah berarti apa-apa (lagi)”.



Klik sumber gambar
Tadi siang. Saya menyempatkan diri lagi melakukkan blogwalking dan saya menemukan sebuah kalimat efisien tapi maknanya luas di blognya namarappuccino. Disitu dituliskan bahwa “saya masih bisa menikmati kopi meski yang saya inginkan teh”. Dari situ saya menarik kesimpulan, memang kebahagian tidak boleh digantungkan kepada siapapun. Tidak perlu terpatok pada satu hal. Lantas kita masih bisa menikmati pilihan lain yang bisa membahagiakan sekalipun masih dalam kategori mencoba bahagia. Mungkin kita pernah merasa bahagia, tertawa lepas, sampai sempat berfikir kita tidak akan menemukan sumber bahagia lain. Itu terjadi karena kita tidak pernah mau mencoba hal lain. Mungkin hal baru yang awalnya membosankan atau sama sekali tidak pernah berfikir untuk menghabiskan banyak waktu dengan hal itu. Waktu dan perasaan kita sudah didominasi dengan satu hal saja, dan kita banyak menggantungkan bahagia kita pada satu hal itu.

September 11, 2014

Tunjukkan, Kamu bisa :)

Saya ingin bicara banyak, berpura2 mengerti banyak. Memberi nasehat seolah saya maha bijak. Izinkan. 

Kemarin saya sempat mengobrol banyak tentangmu, bersama seorang teman yang juga temanmu. Dia bercerita terlalu banyak bahkan terlalu detail sampai saya begitu sangat teramat mengenalmu lagi. Tak satupun peristiwa yang luput dari perbincangan kami. sekalipun sebenarnya saya sudah terlebih dulu meninggalkanmu di belakang, jauh sangat jauh di belakang.