September 19, 2014

Si Hitam dan Si Putih

klik sumber gambar
Yang satu kulit hitam, yang satu kulit putih. Mereka berhasil memebesarkan 3 anak membanggakan. 2 anak si hitam dan satunya si bungsu kulit putih.Betapa kontrasnya perbedaan  dalam keluarga itu. Saat jalan beriringan, makan di meja makan, bermain di taman, dan banyak hal lainnya. Tapi lihat, perbedaan tak menjadi alasan perpecahan mereka. Mereka menyatu, memahami, sekalipun ada ejekan2 kecil tapi semua hanya sebatas hiburan, tidak pernah jadi perang nyata. Itulah. Setiap saya melihat si sulung kulit hitam menggendong si bungsu kulit putih, menciumnya, mengajaknya tertawa bersama, sungguh ibu dan ayahnya sudah sangat berhasil menanamkan sebuah toleransi sejak dini.
Perbedaan ada bukan untuk jadi perdebatan. Saya tau, mungkin didalam kesempurnaan yang saya lihat setiap minggu sore di taman bermain atau pagi hari saat melakukkan jogging rutin itu hanya sebatas kasat mata. Mungkin didalam ada retak yang berusaha di redam. Tapi bagaimanapun saya suka. Saya menyukai keluarga itu. Yang tetap, selalu terlihat sempurna di mata kami selaku "penonton". Entah bagaimana dalam dan perjuangannya, yang saya lihat mereka rukun. Dan kalopun iya ada kecambuk yang tak tersampaikan, mereka sungguh berhasil bersandiwara.

Si sulung terkenal dengan bahasa inggrisnya yang lantang. setiap kali saya berpapasan (tidak sengaja) di kolidor apartement, kerap saya mendengar kelibetan si sulung yang sedang menerangkan ini itu kepada kedua adiknya. si bungsu dengan kulit putihnya hanya bisa melongo, sesekali menyeringai, atau menimpali si sulung dengan bahasa jepangnya. si hitam yang kedua berusaha menyimak dengan baik, namun dia lebih tertarik dengan hal lain. seperti bermain sepeda, bola, atau hal-hal kecil yang dimatanya menarik. jadi tak heran, si hitam nomor dua selalu meninggalkan si sulung dan si bungsu di bangku panjang taman, atau di belakangnya saat berjalan. Sejak kantor saya membuka cabang di area apartement Golf, pemandangan keluarga itu sudah menjadi santapan pagi atau sore. bagi saya, itu pemandangan sederhana yang bisa membanggakan. lebih tepatnya menyadarkan. Betapa tidak berkurang satu incipun dari sebuah kasih sayang, tidak mengenalnya satu incipun dari ketidaksamaan untuk alasan berkurangnya sebuah pengertian. Belajarlah.


@shintajulianaa




No comments:

Post a Comment