October 30, 2014

Perpindahan

Saya pernah berkali-kali berkata, saya benci dengan perpindahan.

klik sumber gambar



Tapi nyatanya hidup memang tentang sebuah perpindahan. Yang mana sebagian darinya akan membawa separuh atau bahkan seluruhnya hati kita. Perpindahan memang pasti terjadi berkali-kali, camkan. Ya bukan hanya sekali-kali, tapi berkali-kali. Lantas kenapa perpindahan tidak pernah mengajarkan kita untuk “terbiasa”.  Bukankah sesuatu yang terjadi berkali-kali lama-lama akan terbiasa ? Tapi nyatanya selalu ada sepotong rindu di tempat lama, tertinggal disana dan mengembang di waktu-waktu yang tidak pernah terbatas; kapansaja.

Perpindahan memang wajib terjadi untuk perkembangan pribadi kita kedepannya. Untuk pertumbuhan jaringan pertemanan juga pengenalan tanpa batas ruang. Coba selami, dari kecil kita sudah berkali-kali mengalaminya. Contoh kecilnya perpindahan usia dari bayi yang tumbuh jadi anak-anak, anak-anak tumbuh jadi remaja, remaja tumbuh jadi dewasa, dewasa tumbuh jadi orang tua. Perpindahan usia yang merupakan contoh kecil dan pasti setiap orang mengalaminya. Memaksa seseorang untuk tumbuh lalu berkembang. Bermetamorfosa menjadi sosok yang di impikan. Tapi apa kita nyaman ? tidak ! pasti ada banyak gemblengan untuk setingkat lebih maju dari sebelumnya. Gemblengan mental misalnya yang cenderung memporsir jam kerja otak lebih lama. Mulai dari sebelumnya kita tak pernah berfikir tentang bagaimana esok sampai akhirnya kita menjadi sosok visioner dengan rencana beberapa tahun kedepan yang sangat matang. Bukannya itu perpindahan ? perpindahan pribadi tepatnya.



Di sekolah dari sejak duduk di bangku kelas 1 SD kita sudah akrab dengan perpindahan kelas. Dari yang semula hanya belajar bagaimana memegang pensil dengan benar sampai akhirnya belajar menyelesaikan soal-soal aritmatika. Dari belajar bagaimana berkenalan yang baik dan benar sampai belajar bagaimana menghadapi klien agar bersikap pro terhadap semua argumentasi kita. Ini juga bisa di sebut perpindahan.


Tapi yang akan saya bahas disini bukan perpindahan seperti terurai diatas. Yang saya bahas disini adalah “perpindahan perasaan” yang berawal dari “perpindahan tempat”.

Posisi saya disini sebagai anak rantau. Sudah 3 tahun saya hidup di Jakarta dan sudah 3 kali juga saya melakukkan perpindahan tempat. Bagi saya perpindahan tempat itu membawa semua perpindahan lainnya, seperti perpindahan mental, psikis, fisik, juga perasaan akan turut serta di dalamnya.


Perpindahan pertama tahun 2011 silam. Letak tempat kost yang jauh dari tempat kerja mengharuskan saya pindah. Untuk waktu juga tenaga yang efisien, saya harus mencari kost yang jauh lebih dekat ke kantor. Tidak lama saya bertahan di kost’an daerah Blok A itu, hanya 3 bulan. Setelahnya saya pindah ke daerah bhayangkara, Cilandak. 3 bulan bukan waktu yang lama, alhasil saya tidak merasa banyak hal yang “berat” ketika meninggalkan kost itu. Lingkungan sekitar yang ramai penduduk karena berada di tengah-tengah rumah warga-pun menjadi alasan kepindahan saya. karena bagi pekerja seperti saya yang menghabiskan banyak waktu di kantor memerlukan tempat tinggal yang tentram dan tentunya tidak terlalu berisik untuk memudahkan mengunduh kembali energy yang sudah terkuras habis.


Perpindahan ke-dua di pertengahan tahun 2012. Pergantian pemilik lama ke pemilik baru membuat kost-kost’an yang saya tempati menaikkan harganya dan tentunya bertambah pula pelaturannya. Saya bertahan di kost ini selama 8 bulan. Saya sudah benar-benar nyaman dengan semua bagian kost ini. punya teman-teman baik dan menyenangkan, tempat yang nyaman untuk istirahat. Ah pokoknya tak pernah sedikitpun berniat untuk pindah. Tapi keadaan memaksa. Perpindahan kedua ini-lah yang “berat”. Membayangkan lagi betapa malasnya saya mencoba mengenal teman-teman baru lagi, mencoba masuk dengan mereka lagi, betapa malasnya saya harus kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan kost yang baru. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan gantung. Tapi sekali lagi hidup memang untuk perpindahan. Tanpa di elakkan perpindahan yang membawa bejuta perasaan berat itupun terjadi. Pisah dengan teman-teman menyenangkan juga tempat yang sudah terasa sehati.


Saya fikir itu perpindahan terakhir dalam masa rantau. Tapi ternyata tidak. Setelah saya benar-benar sangat nyaman di kostan baru di daerah BNI (masih daerah cilandak) perpindahan itu kembali harus saya lakukkan. Setelah 2 tahun bersama kaka-kaka kost yang senantiasa memberi nasehat, memberi motivasi juga semangat, lagi-lagi perpindahan harus kembali menjadi alasan bentangan jarak. 2 tahun adalah range waktu terlama buat saya. mengenal Ka Diah, Ka selfi, Ka Merry, dan Ayu adalah sebuah hal penting buat Saya. banyak pembelajaran dari hidup mereka. Dan entah masih banyak pertanyaan menggantung dalam diri saya. apakah saya bisa tidur senyenyak di tempat ini ? apa saya bisa senyaman bercerita, senyaman berbagi seperti sekarang ? ENTAH ! pertanyaan ini masih belum terjawab karena masih akan terjadi dalam kurun waktu 20 hari kedepan.
Dan kami anak rantau yang dipermainkan dengan harga sewa kost-kostan. Gaji mengalami kenaikkan begitu pula dengan harga sewa. Lantas kapan saya melasa longgar ?? :’(


Ini teori yang berujung curhat perpisahan. Maaf apabila ada unsur ke-lebay-an.



@shintajulianaa



No comments:

Post a Comment