November 22, 2014

Kinar POV ( Cinta Gagah )

Aku masih tak percaya. Aku masih ingin mempercayai janji-janjinya. Aku masih ingin bermimpi dan mewujudkannya. Tapi Tuhan menampar aku keras. Sampai aku tak bisa lagi menemukkan jalan untuk kembali kepada Gagah. Mungkin ini jawaban doa-doaku. Tapi yang aku tak minta pada Tuhan untuk menjauhkanku dengannya, aku hanya minta petunjuk untuk di lancarkan dalam menjalani setiap fase hubungan kami. Rupanya tuhan punya rencana berbeda. Hingga dia memampangkan apa yang tidak kulihat jadi terlihat begitu jelas. Mempertontonkan drama di belakang panggung itu dengan tirai terbuka. Apa aku harus bersyukur atau merintih ? Meminta tuhan mengembalikkan gagah padaku.

Sore itu gagah menemuiku. Masih dengan muka kusut bekas menangis sedari pagi aku menemuinya. Hampir sebulan dia tidak menemuiku. Kita hanya berkomunikasi lewat telpon dan itupun dengan intensitas jarang. Aku fikir, dia benar-benar sibuk. Aku fikir dia benar-benar sedang bekerja keras untuk masa depan kami. Tapi nyatanya, ada drama lain di balik semuanya.


Kali ini aku berhasil menatapnya lamat-lamat. Dia, gagahku yang sebentar lagi akan meninggalkanku. Aku tak kuasa membayangkan apapun. Mataku buram oleh air mataku sendiri. Pelan-pelan aku tertunduk. Sebelah tanganku mencengkram pagar kost-kostan berusaha mencari kekuatan. Aku menangis tersedu-sedu.

Terbayang wajah kecewa atau mungkin wajah perihatin dari kedua orang tuaku jika aku memberitahukan kabar ini. Tidak akan pernah ada pernikahan. Tidak akan pernah ada Gagah dalam keluarga kita. Aku masih terhunyung. Entah mulai dari mana menjelaskan semua ini.

Bulan ini, hubungan kami menginjak bulan ke 6. 2 bulan yang lalu, aku sudah mengenalkannya mantap kepada keluarga besarku. Aku berharap banyak darinya. Dan bulan depan, gagah berniat mengajakku ke Majalengka. Menemui orang tuanya sekaligus menentukan hari besar kami. Menentukkan kapan orang tua ku siap bertemu dengan orang tuanya. Tapi rencana tinggalah rencana. Aku tak tau pasti apa yang membawanya kembali kepada Mawar. Tapi aku tau, aku tak buta, ada pengkhianatan besar yang di lakukkan gagah. Baik padaku, ataupun kepada Mawar.

Aku masih belum lupa. Ingatanku masih kental dengan peristiwa tadi pagi. Niatnya, aku akan memberinya tiket kereta. Ya dua tiket kereta yang sudah aku booking dari jauh-jauh hari. Semalaman, aku menelponnya. Jawabnya singkat. Bilangnya ada teman. Ada bos. Tak enak. Dan sebagainya. Itulah yang memutuskanku untuk menemuinya di kost-kostannya.

Sekitar jam 7 pagi aku sudah sampai disana. Aku sengaja datang lebih pagi, karena aku ingin sarapan bersamanya. Sudah lama, kita tak pernah makan bareng lagi. Masih dengan keyakinan dan senyum yang lebar aku mengetuk pintu kamarnya. Namun, senyum itu tak lagi tersungging dari bibirku. Mawar membuka pintu kamar dengan penampilan acak-acakkan. Seperti baru bangun tidur.

Ini pertama kali aku melihatnya langsung. Ya, aku tau betul siapa mawar. Mantan Gagah yang amat teramat sangat mencintainya. Mawar yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan gagah. Hal yang tidak bisa aku berikan padanya, Mawar bisa berikan dengan senang hati.

Seperti petir menggelegar. Ada badai hebat bergejolak di hati. Menguras emosi, seperti memancing sebuah luapan air mata. Tidak, aku tak boleh menangis sekarang. Aku pastikan aku tak akan menangis sekarang.

Gagah yang kemudian berdiri di belakang mawar dengan telanjang dada itu mematung melihatku. Entah apa yang ingin dia katakan. Kita terdiam. Tidak ada perkenalan, dan mawar terhimpit dalam empat mata yang saling berpandangan.

Aku berusaha mencari ketegaran.entah dari mana, aku harus bisa biasa saja. Aku harus bisa membuka percakapan.
"Hey mas... ini titipan kamu. Sorry datang sepagi ini. Permisi mba, mas". Tanpa sepatah katapun aku bergegas pergi. Nampaknya Gagah memang tak ingin menjelaskan apa-apa. Dia tak berniat mengejarku. Atau bahkan sekedar membujuk ku untuk percaya padanya.

Sore ini, Gagah melihatku begitu rapuh. Dia berhasil menyakitiku. Dia berhasil mempermainkanku. Dia berhasil. Aku benci diriku sendiri, kenapa selalu menemukkan jalan untuk memaafkannya jika dia minta maaf. Kenapa selalu ada jalan untuk mencintainya lagi setelah pengkhianatan ini. Kenapa aku lebih takut kehilangannya. Aku mulai di perbudak oleh cinta. Dan gagah masih berdiri di depanku, tanpa sepatah katapun. Tanpa penjelasan. Atau kata maaf.

Entah apa yang rasa. Saya harap Gagah akan menjelaskan dan bicara semua yang aku lihat salah. Semua yang terjadi tidak seperti apa yang aku bayangkan. Aku harap, aku salah. Atau setidaknya Gagah akan bicara menyesal dan memohon padaku untuk memberinya kesempatan ke-2. Aku sudah terlalu cinta padanya. Aku tidak bisa kehilangannya.



Shintajulianaa ( Cinta Gagah )
22/11/2014 (16:01)






No comments:

Post a Comment