November 22, 2014

Saya Lelaki Bajingan ( Cinta Gagah )

Saya mematung di depannya. Gadis yang 6 bulan lalu saya yakini sebagai pilihan saya. Gadis yang mengajarkan saya banyak. Gadis terbaik yang pernah saya kenal. Kinar.. saya benar-benar minta maaf. Saya tak menyangka akan menjadi seperti ini. Saya tak pernah main-main dengan rencana kita kemarin. Memilih rumah masa depan, berkenalan dengan keluargamu, mengajakmu mengenal keluarga saya, saya tak pernah main-main. Saya benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu. Bisik hati kecil saya.

Kami saling bertatapan. Semakin lama, saya semakin mampu menyelami perasaan dia. Entah dari mana saya harus menjelaskan. Dia sudah tau semuanya. Dia memergoki mawar ada di kostan saya sepagi itu. Jelas, dia tau apa yang sudah terjadi. Kinar tahu betul tentang Mawar berikut kisah lengkap kami. Hanya saja, Mawar tak pernah tahu soal Kinar. Saya tak ingin memberi tahunya. Saya menghawatirkan Kinar. Bodoh, saya menghawatirkan Kinar terluka. Tapi saya sendiri yang melukainya dalam. Sangat dalam.



"Kinar" akhirnya saya bersuara. Beribu kata maaf tak akan mengembalikkan semuanya. Hatinya sudah saya hancurkan. Harapannya, mimpinya. Tuhan, kenapa harus Kinar. Kenapa lebih mudah bagi saya menyakiti Mawar daripada Kinar. Lebih mudah bagi saya melihat Mawar menangis daripada Kinar. Apa karena kinar perempuan baik-baik bahkan sangat baik, jadi sudah sewajarnya saya merasa bersalah seperti ini. Lantas kenapa bukan kinar yang saya pilih ?

Saya tak sanggup lagi berkata-kata, Kinar mulai menangis sesenggukan di depan saya. Nafas cepat yang dia ambil di sela-sela senggukkan, saya tau ada bebel sakit yang tak tertahan di rongga hatinya. Tanpa berbicara, dia menyerahkan cincin tunangan kita.

"Kinar... " aku berniat merengkuhnya yang terpojok di depan gerbang kost-kostan nya. Tolong berhenti menangis. Saya ingin seketika menghapus tangisnya. Tapi bagaimana, saya tidak bisa. Saya menggenggam tangannya, tapi kinar langsung menepisnya dan kembali menjauh. Mungkin memang lebih baik menjauh. Bahkan jika bisa terulang lagi, saya tak akan pernah lari kepada Kinar. Saya tak ingin mengenalnya jika hanya untuk menyakitinya.

"Mas gagah memang untuk Mawar, bukan buat aku. Pergi Mas... jangan pernah temui aku lagi." Dengan terbata-bata di sela tangisnya. Dia berusaha tegar mengucapkan itu. Kinar berdiri tegak di depan saya yang menunduk lemah.

"Bagaimana orang tuamu Nar ?"

"Itu urusanku Mas. Orang tua ku pasti lebih mengerti" kinar menghela nafas dalam. Lalu menghapus air matanya dengan jemari tangannya. Yang tersisa tinggal merah di matanya, tidak ada lagi gumpalan air mata.

"Pulanglah,, semoga bahagia. Assalamualaikum". Kinar berbalik, membuka pintu gerbang. Tertinggal saya sendiri.. menatap punggungnya sampai dia menghilang di balik dinding.

Cinta Gagah 22/11/15
shintajulianaa

No comments:

Post a Comment