December 27, 2014

stop this pain ; I MISS U, Darl

“Jika teori jawa mengatakan witing tresno jalaran soko kulino. Maka kita adalah praktek yang tidak aku sadari.”
  ****

                Aku fikir, hatiku bisa dikemudikkan kemana aku mau. Aku fikir selama logika menyetujui itu tak akan pernah jadi perkara berarti. Dan selama ini, aku tidak ingin benar-benar menyukaimu. Karena bagiku, kamu hanya pelengkap dimana aku merasa sendiri. Tidak pernah lebih. Aku tak akan merindukanmu, kecuali jika aku sudah kehilangan lawan untuk bercerita. Kehilangan lawan untuk bermain games, atau ketika Gilang, Ardi, dan Derry sibuk dengan dunia-nya. Yang mungkin akan lebih berat jika mengikutsertakan aku bersama keasyikkkannya.

                Bagiku; kamu hanya teman jalan, teman nonton, teman ngobrol, tidak pernah lebih berarti dari pada teman-teman lelakiku. Bagiku; kita hanya label yang aku beli hanya agar mereka tidak lagi mencandaiku sebagai single atau lebih parah tuna asrama. Bagiku; hanya ada kamu dan hidupku, dan aku dengan kehidupanku. Tidak ada kita, tidak ada kehidupanmu. Bagiku; kamu hanya manekin.


                Mungkin aku tidak pernah menyadarinya dulu. Atau bahkan aku tak mau mengakuinya. Entahlah, yang jelas aku tak mau menyukaimu lebih dari manekin. Aku tak mau membutuhkanmu lebih dari sarapan pagi yang selalu kamu antarkan ke meja kerjaku. Aku tak mau mencarimu lebih dari aku membutuhkan teman untuk nonton film-film horor. Aku tak mau menelponmu, lebih dari aku meminta bantuanmu untuk segera datang ke rumah walau hanya sekedar menemaiku nonton dvd. Aku tak mau membanggakanmu lebih dari aku mengagumi kecantikkanmu. Hanya itu. Aku tak mau lebih dari itu.

                Dan tiba saat aku angkuh untuk merasa kamu benar-benar tak berarti hingga aku pergi dengan begitu pasti. Mungkin kamu tak pernah tau. Atau bahkan kamu benar-benar yakin, aku tidak akan pernah ingin lagi kembali. Seperti kataku malam itu. Saat permohonanmu hanya jadi bahan kepastianku menjauh. Melenggang meninggalkan dengan mudah. Kamu tahu, saat itu aku benar-benar puas telah berhasil pergi. Terlebih saat kamu menangis tanpa upaya untuk membuatku berhenti. Kali ini, sebenarnya aku tetap tak ingin mengakui. Kali ini aku masih ingin tetap meyakini, kamu tak akan pernah jadi berarti.

                Darl, taukah baru sekarang aku memanggil namamu setiap malam dalam sendiri. Taukah baru kali ini, aku tetap merasa sepi hingga menghabisi walau mereka setia menemani. Taukah aku berharap pagi membawamu lagi, walau sekedar untuk mengucapkan “selamat pagi. Hari ini aku masih mencintaimu.” Mungkin kamu sudah tak berniat untuk kembali. Mungkin kamu benar-benar telah mempercayai segala kebohonganku yang sebenarnya dulu aku yakini.

                Kamu tak pernah tau. Sama halnya dengan ku yang tak pernah tau pelan-pelan kamu bertahta di relung hatiku. Sudah sebulan aku menunggumu. Setiap pagi, siang dan malam yang ku harap kamu datang karena rindu yang mulai meradang. Tapi apa daya, tabiat burukku sudah berhasil membuat jera kamu.

                Taukah. Aku rindu kamu bukan sekedar untuk menemani nonton film horor, atau duduk di samping mengunyah popcorn. Kali ini, aku ingin kamu melakukkannya lagi. Memasak pagi-pagi, membangunkanku lebih pagi, menjadi alarm pengingat ini itu, mengantar sarapan di meja kerjaku, mengucapkan ucapan sederhana seperti kata i love you. Kali ini aku benar-benar merasa kehilangan.

                Rupanya kebiasaan-kebiasaan kecilmu mampu mengisi hari-hariku lebih dari sekedar pelengkap sepi. Rupanya kebiasaan munculmu yang tiba-tiba, yang dulu sering membuatku jengkel karena kamu datang sesuka hati, kali ini aku ingin kamu melakukkannya lagi. Datang tiba-tiba. Aku tak peduli jika kamu ingin datang sesuka hati lagi bahkan ketika aku sedang menikmati kesendirianku. Aku tak peduli jika kamu ingin selalu turut serta dalam setiap acara malamku. Aku tak peduli jika kamu mau terus mengingatkanku untuk berhenti merokok. Aku tak akan lagi peduli atau keberatan. Jadi aku mohon, datanglah lagi.

                Setiap hari sejak hari aku memutuskan pergi, aku tetap baik-baik saja. Tak ada yang berubah. Aku tetap pecinta dunia kerja, tetap lupa makan saat fokus bermain games, tetap ketakutan saat aku menonton film horor. Tidak ada yang berubah, hanya saja ada yang kurang dan beda. Mungkin karena tidak ada lagi kamu. Tidak ada lagi nasehat-nasehat kecil yang membuatku pusing. Tidak ada lagi larangan merokok di dalam ruang, tidak ada lagi larangan tidur tengah malam, kali ini aku bebas seperti apa mauku. Tapi kenapa aku tak merasakan lebih bahagia ?

                Kamu bisa bicara “datang saja jika aku mulai ingin kembali.” Tapi  bukankah kamu yang paling tahu aku ? aku yang tak pernah mau mengaku, aku yang angkuh, aku yang terlalu mengutamakan harga diri yang ku junjung hingga mati. Aku yang lebih berprinsip.

                Bila seperti ini maukah kamu mengalah lagi ? untukku ? dan mungkin akan lebih mudah jika aku mulai bisa mengakui adanya kita.


                Darl, aku merindukanmu. Merindukkan kebiasaan-kebiasaan kecilmu. Maukah kamu melakukkannya lagi ? dan aku tak akan memintamu berhenti apalagi pergi.


Add caption

Will you come home and stop this pain tonight

Stop this pain tonight
-

I Miss You | Blink 182







jangan pernah menganggap remeh kebiasan-kebiasaan kecil.
karena jika di lakukkan terus menerus, kebiasaaan akan memintanya melakukkan lagi.
@shintajuliana



No comments:

Post a Comment