January 13, 2015

Karena Saya Bukan Anda...

Catatan yang saya buat tidak tertuju kepada siapapun. Mohon maaf jika ada pihak yang terpojokkan.

________________

Salah jika saya berusaha lebih keras dari pada anda ?
Salah jika saya lebih di perbudak waktu dari pada anda ?
Saya bukan anda yang dengan leluasa menggunakan uang hanya untuk membeli kepuasaan pribadi.
Saya bukan anda yang bekerja hanya sekedar happy-happy.
Saya bukan anda yang sesuka hati berhenti saat tak lagi merasa happy.
Saya bukan anda yang bebas membeli hanya untuk sekedar diakui.

Saya hidup bukan hanya untuk saya.
Saya bekerja bukan hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya.
Saya bekerja lebih keras bukan hanya karena ingin membeli gagget kekinian, membeli tas branded, membeli baju mengikuti trend, atau pergi berlibur kesana kemari.
Kalau seperti itu, anda bisa berhenti sesuka hati,
Tapi tidak dengan saya.

January 04, 2015

Re-peat


          Tahun lalu, kita pernah berhayal bersama. Di kedai kopi daerah kemang. Malam itu Bulang melengkung dengan sempurna. Semburat sinarnya sampai di teras-teras kota. Jam sudah menujukkan pukul 02.00 dini hari. Aku dan pria di depanku enggan beranjak pergi. Aku masih ingat tatapan itu. tatapan yang saat itu aku yakini sebagai perwakilan tatapan tulus.

          Malam itu seolah semesta turut mendukung semuanya. menjadi saksi bisu atas bahagia yang meluap-luap jauh di dalam hatiku. Aku ingat bagaimana kamu becanda pagi itu. Mulai dari makanan favorite kamu yang jelas-jelas berbeda denganku. Aku si pecinta seafood dan kamu yang ogah-ogahan dengan seafood. Kamu suka keramaian dan aku pecinta kesendirian.

           Malam itu kamu menjemputku seusai melaksanakam sholat taraweh. Kira-kira jam sepuluh malam, pertama kali kamu mengenalkan tempat itu. Tempat yang katamu jadi tempat terbaik untuk menghabiskan waktu. Aku hanya bisa mengikuti. Sambil menunggu waktu shaur, kita mengobrol kesana-kemari. Di awali obrolan ringan sampai obrolan berat dimana kamu mengutarakan mimpimu untuk menikahiku. Mulai dari rencana-rencana kecil perihal pengenalan kedua keluarga, resepsi, rencana tempat tinggal, tabungan bersama, mengajukkan deposito, asuransi untuk masa depan sampai hal besar tentang pandangan mendidik anak. Kamu yang membebaskanku untuk tetap bekerja di kantor dan aku yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga secara utuh, aku yang siap mengabdikan hidupku untuk merawat anak-anak dan juga memperhatikkan pertumbuhan detailnya. Kamu mungkin tak tau, obrolan pagi itu adalah obrolan mimpi-mimpi besarku yang mampu membuka bahagia yang begitu nyata. Mungkin kamu tak sempat melihat sinar mataku yang begitu antusias mendengarkanmu. Kamu mungkin tak pernah tau, aku begitu serius menanggapinya.