April 18, 2015

tak mudah...


Klik sumber gambar

Kali ini aku menyerah. Melepasmu dengan begitu pasrah. Meski nyatanya aku menangis begitu keras. Mencoba mencari kekuatan namun nyatanya aku memang terluka parah. Kini aku menyerah. Memahami pergi memang tak semudah membayangkanmu akan kembali. Meski mungkin tak akan pernah terjadi.


Aku masih menimang-nimang semua yang terjadi belakang ini. Membanding-bandingkan beberapa kejadian yang benar-benar bertolak belakang dengan kepercayaanku selama ini. Malam berjalan tanpa hambatan. Namun, terasa begitu lama untukku. Begitu lama untuk semua kenyataan yang harus aku hadapi sekarang. Di mulai dengan malam ini. Dentuman jam dinding seolah memberiku aba-aba, aku harus terus terjaga. Menghindari mimpi yang hanya akan menambah luka.

Ternyata ada yang lebih perih dari memutuskan sendiri.

Ada yang lebih sakit dari setiap pertengkaran yang terjadi.

Ada yang lebih-lebih sadis dari semua perhatianmu yang mulai terbagi.

Ada.

Ya.

Saat kamu berkali-kali mengangap ku sudah biasa lagi. Dan mungkin memang sewajarnya kamu berfikir seperti itu.

April 15, 2015

Jalan bahagia setiap orang berbeda...

X : Gue bahagia kalo gue punya banyak pengalaman. Kesana-kemari, nikmatin ini-itu. Masalah uang bisa di cari lagi. Yang terpenting itu pengalaman yang lebih berharga dari uang.
Y : bahagia gue ya bisa beli apa yang gue mau. Bisa makan apa yang gue pengen. Itu cukup. Dan tentunya tanpa rasa takut dengan hari esok.
Z : Gue bahagia kalo gue merasa aman di hari tua. Dan gue gak keberatan kalo harus kehilangan hari libur gue dengan berdiam diri di kamar, dan tidur. Karena gue lebih khawatir gak punya uang dari pada dibilang cupu.
X + Y : please, lu enggak nikmatin hidup banget.
****
Sebut saja si Z. Wanita yang dididik keras dengan didikan jawa sekalipun tinggal di Jakarta. Perempuan yang masih mengenal unggah-ungguh sekalipun berada dalam lingkaran kehidupan bebasnya ibu kota. Masih mengenal Tuhan dengan baik, masih memiliki solidaritas tinggi sebagai makhluk social. Si Z, perempuan yang tidak pernah terbawa dengan ke-modern-an gaya kehidupan ibu kota.

Saya sendiri kagum dengannya. Dengan sikapnya yang tegas, menolak pergaulan yang tak pernah memberinya manfaat. Yang dengan keras menyatakan “gue gak keberatan di bilang cupu hanya karena gue gak keluar malam. “

April 11, 2015

22 masih galau !

“Setiap apa yang datang, apapun. Itu pasti sejajar dengan kualitas diri kita.” Kata mba puji setelah selesei sholat magrib.
“Ibarat Naik gunung, semakin kita ke puncak, semakin banyak lagi tanaman yang bisa kita lihat dan semakin berkulalitas juga” lanjutnya.

****

Selamat pagi..
Pagi-pagi udah pengen banget cuap-cuap. Banyak banget, terlalu banyak jadi susah buat mulai dari mana. Padahal terlalu pagi buat bahas apapun yang nilainya sangat-sangat gak penting. Apalagi disela-sela seminar kayak gini. Tapi tangan udah geli sendiri, pengen ngblog. Biar nanti gak lupa sama peristiwa ini. Iya, saya ngbelog, suka menulis, panjang ataupun pendek itu karena saya hanya ingin menyimpan semuanya dalam bentuk catatan. Biar nanti sesekali, saat saya baca kembali membaca catatan saya. Disitu saya yakin, dulu saya benar-benar pernah mengalaminya. Terus saat sudah tak lagi muda dan mungkin udah malas menulis ataupun terlalu sibuk dengan lingkungan, bisa jadi saya benar-benar berhenti ng-blog. Tapi gak akan sia-sia catatan ini, nanti di samping saya bercerita lisan kepada anak cucu nanti, biar mereka membaca sendiri gemuruh gejolak perjalanan neneknya dulu. Please, ini kejauhan shin. Mungkin 40 tahun yang akan datang yang populer bukan blog lagi.

Ini catatan pagi yang sebenernya hanya untuk membantu saya mengingat bagaimana cara saya meluapkan sebuah perasaan gak jelas. Iya Nak, iya cu.. dulu juga nenek pernah muda, dan pernah galau. Sebenernya saat ngalamin situasi yang bener-bener negbingungin dan gak tau harus gimana, disitu mungkin ya namanya galau versi anak 90’an. Apa sih yang dilakuin kalau lagi galau ?

April 06, 2015

EGO



 Bagaimana jika aku membencimu berkali-kali tapi tetap mencintaimu hingga mati.
 Bagaimana jika aku berkali-kali memintamu pergi, tapi tetap merindukkan hingga menyeretmu kembali untuk kesekian kali.
Bagaimana jika aku menyakiti, tapi tetap berusaha meletakkan namamu di hati.
 Jika ini tak adil, berhak kah aku tetap memintamu disisi walaupun kamu berkali-kali aku lukai ? 



ego; 06 april 2015
@shintajulianaa

April 05, 2015

12:30:00 AM 0

Someday..

Suatu Hari Nanti...

Jika saya menikah dan bukan dengan kamu.

Percayalah.. itu tidak akan mudah. Saya tidak pernah mudah melupakkanmu. Sekalipun saya tidak punya hal lain untuk di banggakan tentang kita. Tidak punya cerita manis yang bisa saya jadikan acuan, kecuali masa-masa konyol itu.

Setiap saat saya menjalani kisah baru. Berharap hati saya bisa ikut seluruhnya tanpa pernah melihat kamu. Tapi entah kenapa, namamu selalu mengintai setiap jalan kisah hidup saya.

Jujur saya berat.
Mengingatmu dalam saat-saat seperti ini, saya benar-benar berat.
Perasaan hati yang campur aduk juga keyakinan masa depan akan jauh lebih baik jika seolah di depan nanti tak lagi ku temui kamu.

Ada sakit dan takut luar biasa, jika saya tahu dan harus terpaksa benar-benar melepaskanmu. Mengikhlaskanmu untuk wanita yang mungkin kelak akan kamu cintai jauh dan tidak ada apa-apanya di banding saya. Saya harus terpaksa menerima, jika memang bukan dengan kamu, saya menghabiskan sisa umur ini. Harus siap untuk setia kepada satu laki-laki dan itu bukan kamu. Harus mengenyahkan kamu dari fikiran hingga tak secuilpun  namamu ada dalam setiap harapan saya. Bisakah ? Sementara sampai detik inipun, selalu kamu yang jadi pemeran utama.

Bisakah ? Saya melihatmu kecewa ? Tanpa daya upaya untuk menghiburmu ?