April 15, 2015

Jalan bahagia setiap orang berbeda...

X : Gue bahagia kalo gue punya banyak pengalaman. Kesana-kemari, nikmatin ini-itu. Masalah uang bisa di cari lagi. Yang terpenting itu pengalaman yang lebih berharga dari uang.
Y : bahagia gue ya bisa beli apa yang gue mau. Bisa makan apa yang gue pengen. Itu cukup. Dan tentunya tanpa rasa takut dengan hari esok.
Z : Gue bahagia kalo gue merasa aman di hari tua. Dan gue gak keberatan kalo harus kehilangan hari libur gue dengan berdiam diri di kamar, dan tidur. Karena gue lebih khawatir gak punya uang dari pada dibilang cupu.
X + Y : please, lu enggak nikmatin hidup banget.
****
Sebut saja si Z. Wanita yang dididik keras dengan didikan jawa sekalipun tinggal di Jakarta. Perempuan yang masih mengenal unggah-ungguh sekalipun berada dalam lingkaran kehidupan bebasnya ibu kota. Masih mengenal Tuhan dengan baik, masih memiliki solidaritas tinggi sebagai makhluk social. Si Z, perempuan yang tidak pernah terbawa dengan ke-modern-an gaya kehidupan ibu kota.

Saya sendiri kagum dengannya. Dengan sikapnya yang tegas, menolak pergaulan yang tak pernah memberinya manfaat. Yang dengan keras menyatakan “gue gak keberatan di bilang cupu hanya karena gue gak keluar malam. “


Saat itu saya dan rekan-rekan terlibat dalam perbincangan random. Tentang makna kebahagiaan. Sebagian dari kita, ada yang rela menghabiskan jutaan rupiahnya untuk mencari pengalaman. Liburan ke luar negeri, mencicipi makanan-makanan enak, memberi makan ego hanya untuk sebuah pengakuan popularitas. Itu. Sebagian dari kita, bahagianya di hasilkan dari hal seperti itu.

Sebut saja si X. yang sebagian besar penghasilnya di gunakan untuk foya-foya. Menikmati panorama yang katanya bisa mengunduh rasa kepuasan yang luar biasa. Yang katanya, di luar sana selalu ada banyak hal yang bisa dipelajarinya. Jauh lebih dari kicauan petuah-petuah belaka. Bahagianya terletak pada kepuasan mata memandang.

Lain lagi dengan si Y. Yang bahagianya terletak pada kepuasan akan rasa penasaran. Si Y yang berani mengeluarkan berapa rupiahpun untuk mencari tahu apa yang belum di ketahuinya. Mencicipi apa yang belum di rasakannya. Mendatangi apa yang ingin dia datangi. Semua itu hanya untuk rasa keingintahuannya.  Bahagianya terletak pada kepuasan “ketahuannya” akan sesuatu.

Dan sangat berbeda kubu dengan si Z. yang hidup lurus dan ternilai flat untuk seorang X maupun Y. yang dari kecil banyak menghabiskan waktu di kamar, di depan televisi, atau berlarut-larut dalam mimpi tidurnya. Si Z yang cenderung berprinsip.

Pernah suatu ketika, dia bercerita tentang kesehariannya. Yang menurut sayapun yang tidak tergolong di si X atau si Y saja menilai hidupnya sangat-sangat membosankan. Tenggelam dalam pekerjaan di waktu weekday, di waktu weekend, si Z pun menikmati meekendnya hanya dengan leha-leha di kamar. Dia menyebutnya syurga, me time-nya seorang Z. Padahal dia tidak kuper untuk seukuran perempuan modern. Dia memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Tapi itu tadi, dia tidak mudah terpengaruh. 

Lalu dimana letak bahagianya ? bagaimana menikmati bahagianya dengan uang hasil jerih payahnya ?

Berbagi. Dia yang besar di Jakarta yang mengenal betul hukum-hukum berbagi dengan sesama. Dia yang menafkahi bathinnya dengan berbagi. Dia yang rela menghabiskan penghasilannya untuk menolong orang lain. Dia yang kepuasannya di titik tumpukan kepada kebahagiaan orang-orang disekitarnya.

Ya. Dia si Z yang saya kagumi. Sangat-sangat saya kagumi.

Tidak perlu muluk-muluk. Ini Jakarta. Dimana keluar malam dan pulang pagi sudah jadi pemandangan “biasa”. Dimana club sudah menjadi tempat “asyik” yang tidak lagi di hindari. Dimana “pergaulan” lawan jenis sudah tidak lagi di anggap tabu. Tapi Dia. Membiarkan Jakarta menjadi Jakarta bagi mereka penikmat kebebasan, dan dia tetap menjadi si-Jawa yang memegang teguh hukum Tuhan dan tatakrama turun temurunnya.

Saya yang baru seumur jagung di Jakarta-pun sudah pernah mencicipi bagaimana bahaya melewati malam di Jakarta. Sekalipun hanya sesekali. Sedang dia tidak pernah sekalipun melangkahkan kakinya, keluar dari rumah lebih dari jam 11 malam.

Dia yang tidak pernah menghambur-hamburkan waktunya dengan obrolan tak penting dalam sebuah tempat nongkrong walau sekedar mencicipi secangkir kopi. Dia yang sama sekali tidak tahu apa itu club dan bagaimana kerasnya dentuman musik dalam ruang yang serba gemerlap itu. Dia yang tidak pernah termakan rasa penasaran akan rasa minuman alcohol atau sekedar setetes anggur merah kualitas ekspor. Dia yang sama sekali tidak termakan kepopuleran shisha pada zamannya. Dia yang lebih memilih menonton di depan televiie dari pada dalam ruang gelap berlayar penuh seperti bioskop. Dia yang lebih memilih masakan mamanya dan tidak pernah tergiur dengan makanan-makanan di luar sana. Ya bagi kalian penikmat dunia modern, pasti menganggap dia cupu, kampungan, norak dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, itu adalah jalan bahagianya.

Jujur saya pribadi terkagum-kagum dengannya. Singkat cerita, saya sebelum memutuskan berjilbab. Ya sekitar 2 tahun yang lalu. Sayapun pernah tergiur dengan apa yang di suguhkan ibu kota. Mencicipi sekali dua kali pulang pagi, walaupun hanya sekedar nongkrong di warung kopi. Pernah sekali menginjak club sekalipun hanya untuk menjemput seorang teman. Pernah menikmati bau anggun merah yang sangat menyengat. dan untuk masalah boros, saya masih ada pada lingkaran itu sampai detik ini.


Well. Ini hanya catatan tentang sudut pandang kebahagiaan setiap orang, yang tidak bisa kita sama-ratakan. Bagi saya, semua sah-sah saja. Jadi si X, Y ataupun si Z, semua halal-halal saja. Asal selama melakukkannya tidak merugikkan orang lain.

Salam..
@shintajulianaa
Yang menyempatkan ngblog di waktu perut keroncongan.


No comments:

Post a Comment