June 06, 2015

Mei Kemarin !

aku masih sulit untuk mempercayai. Semua masih berada di luar daya nalarku sebagai anak kampung yang berusaha beradaptasi dengan segala keganjilan ibu kota yang sudah di anggap biasa. Aku masih terheran-heran mendengar kabar itu. Ya, kabar terakhir yang seperti petir di siang bolong. Aku yang masih lekat dengan mimpi-mimpi itu. Belum sadar sepenuhnya sekalipun kenyataan  menjatuhkanku berkali-kali. Belum sepenuhnya mengubur harap sekalipun ketidakmungkinan semakin terlihat begitu tak mungkin dihindari.

Tak bisa kujelaskan kabar apa yang ku dengar. Namun lebih dari pengkhianatan terpapar dengan begitu lantang. Kali ini, aku sudah habis daya untuk (ingin) bersamamu. Sudah habis cinta untuk bisa (mau) bersamamu.

Yang jelas. Ini bukan hanya akan menjadi antara aku, kau dan dia, juga mereka. Ada sosok lain yang tak mungkin lebih jauh untuk bisa diabaikan. Dan apapun yang jadi alasan. Kamu harus tetap bersamanya. Tak peduli apapun. Bagaimanapun. Tak peduli mereka mungkin akan lebih terluka dari pada aku. Ingat kamu harus tetap bersamanya. Menemaninya dalam segala masasulitnya. Menyaksikannya menua dan bergegaslah lebih baik.

Sekarang sosok itu masih hanya bisa menatapmu. Menyaksikan kamu yang mungkin berselisih faham dengannya. Mendengarmu berteriak mencaci makinya. Sadarlah sekarang, tingkahmu akan tercetak di sosok itu. Jadi lebih baiklah.


Pesanku. Pergilah. Nikmatilah hidupmu dengan apapun bagian terburuknya. Sampai waktu membuatmu jatuh hati sampai tak ingin pergi. Berjalanlah. Apapun yang akan terjadi. Sekali lagi, ini tak lagi tentang aku, kau, dia dan mereka. Ada yang lebih sensitive dari itu. Bergegaslah lebih baik. Sebentar lagi akan ada yang memanggilmu “ayah”. 

klik sumber gambar

No comments:

Post a Comment