August 29, 2015

ANAK RANTAU VS HARGA KOST

Selamat pagi bloggers J

Sebenernya sudah dari jauh-jauh hari pengen banget bahas ini. Suka dukanya anak rantau dengan harga kostan yang setiap tahunnya mengalami kenaikan. Well, saya juga masih dalam tahap shock therapy akibat kenaikan harga kost yang melejit mulai pembayaran September nanti. Sementara ya readers, perusahaan baru akan mengalami kenaikan pertahun setiap bulan Februari. And you know lah simpulannya berarti harus pangkas dana sana-sini buat nombokin budget kostan yang nambah.

Klik Sumber Gambar

A : "Kostan gue naik ni."
B: "gue juga, naek 200rb"
A: "gaji mah belum naik"
B: "Belum tentu juga gaji naeknya 200rb-an"
A & B : "-____________-"

Ng-KOST !

Anak rantau pasti akrab banget sama nama ini. Iya semacam bangunan pengganti rumah yang diusahakan senyaman rumah juga. Meskipun nyatanya mustahil banget. Rumah tetap akan jadi tempat pulang ternyaman. Tapi ya buat kita yang berada jauh dari rumah dan dituntut bertahan dalam suatu kota yang gak ada family,  ya alternatifnya pasti ngkost. Mungkin buat yang punya family dan pengen hidup “bebas” pasti akan lebih memilih ngkost ketimbang numpang dirumah sodara. Bebas yang dimaksud bukan hal-hal aneh ya, tapi bebas yang saya maksud adalah bebas ketika kamu lagi males ngerjain kerjaan rumah dan milih leyeh-leyeh tanpa harus ada rasa gak enak karena hal itu. Taulah gimana bebannya tinggal sama sodara. Saya dulu pernah ngalamin ya, dan cuma bertahan sekitar satu minggu. Bukan karena diusir atau tidak diinginkan ada ya, tapi karena perasaan gak enaknya itu lho.

August 14, 2015

Kenapa NG-BLOG ?


Klik Sumber Gambar


Sore tadi ada teman saya yang dari dulu suka menulis.

 Dia bilang :
1.       Banyak si gue nulis, tapi di laptop doang.
2.       Gue sebenernya pengen banget post tentang kisah gue, tapi horror orangnya baca.
3.       Gue belum berani, takut ada yang salah ngartiin tulisan gue.

3 point tadi yang bikin si A jadi bergerak seadanya di dunianya sendiri. Ya menurut saya,  setiap orang punya dunianya masing-masing dalam artian dimana dia bisa bebas berekspesi. Orang yang suka nulis, otomatis dong dia mengekpresikan apa yang di dengar, di rasa, di lihat dengan bentuk tulisan. Orang yang suka melukis ya dengan melukis. Orang yang suka bernyanyi, dengan bernyanyi. Begitupun seterusnya. Bebas.

Dan kami yang rajin posting ini-itu di blog atau situs lainnya. Saya tekankan lagi ya, ini bukan ajang cari muka atau pengen di perhatikan banyak orang. Bukan ingin tersohor atau dinilai punya peran. Kami hanya ingin menulis. Itu saja. tentang apapun yang ingin kami sampaikan.

August 11, 2015

Sore yang terbuka

Klik Sumber Gambar
Selamat sore kamu di kotamu.
 Semoga selalu bahagia dan dalam kelapangan hati untuk mau terus mengerti.




Maaf aku akhir-akhir berhenti percaya. Kamu pasti tau, aku yang mudah terbawa salah. Hari minggu kemarin aku kemakan emosi, lebih lama itu timbul ego diri yang sulit untuk aku tahlukan. Aku berhenti percaya. Termakan banyak fakta. Ingin aku tanya agar semua lebih jelas adanya, tapi apa daya kita tak pernah diberi celah untuk saling memberi. Atau memang kamu yang tak mau ?

Hari itu sebelum aku melihat jempol  kamu berkeliaran di salah satu postingan yang “ah” sebut saja aku tak suka kenapa harus dia. Bukan untuk mendikte, nyatanya aku timbul seribu tanda tanya yang mengungkungku dalam berjuta kemungkinan. Aku tak bisa dan tak mau satuhalpun dari prasangka burukku jadi nyata. Oke, baik. Kamu boleh menyebutku cemburu, childish atau apapun. Tapi aku benar-benar tak suka. Aku fikir semua akan berhenti hanya disitu. Hingga tiba saat aku bercerita dan mengambil garis besar dari semua peristiwa,

seseorang teman berkata ;

August 08, 2015

10:41:00 AM 0

Lebih dari sekedar..


***
klik sumber gambar

Kepada Senja aku meminta bersedia. 
Tapi Tuhan mewujudkan lebih dari sekedarnya. 
Kepada menit aku minta untuk lebih menjaga.
Sekali lagi Tuhan mewujudkan lebih dari sekedarnya.

(Shinta Juliana, Bandung 27Juli2015)

***







Terimakasih sudah tersenyum..

Kita tersenyum. Tersipu satu sama lain. Akankah itu berarti cinta ? atau hanya bahagia karena rindu akhirnya menemui penawarnya ? Aku ingin mendeskripsikan banyak hal. Senyumanmu yang tidak pernah berubah, bahkan hal terdetail yang tidak pernah bisa aku lupa. Kamu sama. Semoga itu bukan hanya karena aku terlalu bahagia.

Tertawapun syah-syah saja. walau tak ada lelucon yang berarti, melihat tingkahmu sudah cukup membuat dahaga bahagiaku tercukupi. Mungkinkah kamu semenarik itu ? mungkinkah benar sosokmu tetap jadi kamunya aku yang tidak akan pernah bisa aku sempurnakan ? kali ini aku biarkan seadanya. Aku cukup bahagia dengan pertemuan dua pasang mata yang tak sengaja ku curi. Bila itu yang terakhir, setidaknya aku sudah punya cukup modal untuk berpisah lagi, sekalipun mungkin aku tetap tak kan mau.

Kamu perlu tahu. Bersamamu walau tanpa hal istimewa sudah cukup membuatku kebal akan luka. Kamu harus tahu. Jika ini bukan cinta, kenapa aku bisa sesederhana itu tertawa lepas ? Jika bisa setiap waktu saat aku merasa ingin bahagia, bisakah aku berpaling disisimu ? Meski selepasnya kamu atau aku harus pergi. Entah kenapa, bertemu atau dekat denganmu meyakinkanku bahwa kepergian hanya tinggal sejengkal lagi dari binar-binar mataku. Entah kenapa kamu tidak bisa aku pertahankan atau mungkin kamu bertahan walau sekedar untuk membuatku tertawa ? mungkin ini bukan cinta. Aku tak ingin mendeskripsikan lebih jika hanya untuk kembali terluka. Biar adanya begini. Datang dan pergi sesuai kau mau. Aku mampu jadi rumah tempat kau pulang; kapanpun kau bersedia.  

Maaf. Aku menilaimu lebih dari seharusnya. Seperti pernah ku bilang. Aku malu untuk lebih bertahan. Aku tidak punya apapun yang bisa kubanggakan untuk lebih memperjuangkan.

Kamu mungkin lupa. Aku juga. Entah mulai kapan perasaan tulus ini tumbuh. Bukan perasaan seperti yang lain ada hasrat menggebu memilki. Aku tidak sebegitunya. Bukan perasaan sebelumnya yang dengan mudah aku tumpahkan dengan banyak rayuan. Aku tidak seberani itu. Bukan perasaan sebelumnya yang dimana tanpa gelisah aku dengan bebas bergerak mendikte ketidaknyamananku. Aku tidak selancang itu. Padamu !

Aku untukmu lain dengan ketika aku bersedia menemani dia ataupun mereka. Aku ketika bersamamu lain dengan ketika aku harus siap sedia melayani cerita mereka. Aku untukmu sebebas yang kamu mau. Kamu pergi, akupun pergi. Kamu datang, aku lebih dari sekedar senang. Jika kamu tak bahagia sepertiku, kamu berhak berlari menjauh dariku. Perkara bagaimana aku, itu urusanku. Aku untukmu ingin selalu menangkan. Tidak perlu dengan banyak hal yang kamu upayakan, tersenyumpun aku sudah cukup riang. Aku melepasmu. Pergilah dengan siapapun yang kamu ingini, sekalipun bukan bersamaku. Bahagiamu sudah cukup mengantarku ke gerbang cerita berikutnya.

Jujur saja. kebaikanmu aku utamakan lebih dari sekedar keinginanku. Entah ini apa, yang ku tau aku tak ingin meminta banyak dari apa yang bisa aku beri.

klik sumber gambar


Terimakasih sudah tersenyum hari itu.
Terimakasih sudah bersedia ada. 
Satu do’a ku terwujud. 
Terimakasih Tuhan, terimakasih kamu !


@shintadutulity