August 08, 2015

Terimakasih sudah tersenyum..

Kita tersenyum. Tersipu satu sama lain. Akankah itu berarti cinta ? atau hanya bahagia karena rindu akhirnya menemui penawarnya ? Aku ingin mendeskripsikan banyak hal. Senyumanmu yang tidak pernah berubah, bahkan hal terdetail yang tidak pernah bisa aku lupa. Kamu sama. Semoga itu bukan hanya karena aku terlalu bahagia.

Tertawapun syah-syah saja. walau tak ada lelucon yang berarti, melihat tingkahmu sudah cukup membuat dahaga bahagiaku tercukupi. Mungkinkah kamu semenarik itu ? mungkinkah benar sosokmu tetap jadi kamunya aku yang tidak akan pernah bisa aku sempurnakan ? kali ini aku biarkan seadanya. Aku cukup bahagia dengan pertemuan dua pasang mata yang tak sengaja ku curi. Bila itu yang terakhir, setidaknya aku sudah punya cukup modal untuk berpisah lagi, sekalipun mungkin aku tetap tak kan mau.

Kamu perlu tahu. Bersamamu walau tanpa hal istimewa sudah cukup membuatku kebal akan luka. Kamu harus tahu. Jika ini bukan cinta, kenapa aku bisa sesederhana itu tertawa lepas ? Jika bisa setiap waktu saat aku merasa ingin bahagia, bisakah aku berpaling disisimu ? Meski selepasnya kamu atau aku harus pergi. Entah kenapa, bertemu atau dekat denganmu meyakinkanku bahwa kepergian hanya tinggal sejengkal lagi dari binar-binar mataku. Entah kenapa kamu tidak bisa aku pertahankan atau mungkin kamu bertahan walau sekedar untuk membuatku tertawa ? mungkin ini bukan cinta. Aku tak ingin mendeskripsikan lebih jika hanya untuk kembali terluka. Biar adanya begini. Datang dan pergi sesuai kau mau. Aku mampu jadi rumah tempat kau pulang; kapanpun kau bersedia.  

Maaf. Aku menilaimu lebih dari seharusnya. Seperti pernah ku bilang. Aku malu untuk lebih bertahan. Aku tidak punya apapun yang bisa kubanggakan untuk lebih memperjuangkan.

Kamu mungkin lupa. Aku juga. Entah mulai kapan perasaan tulus ini tumbuh. Bukan perasaan seperti yang lain ada hasrat menggebu memilki. Aku tidak sebegitunya. Bukan perasaan sebelumnya yang dengan mudah aku tumpahkan dengan banyak rayuan. Aku tidak seberani itu. Bukan perasaan sebelumnya yang dimana tanpa gelisah aku dengan bebas bergerak mendikte ketidaknyamananku. Aku tidak selancang itu. Padamu !

Aku untukmu lain dengan ketika aku bersedia menemani dia ataupun mereka. Aku ketika bersamamu lain dengan ketika aku harus siap sedia melayani cerita mereka. Aku untukmu sebebas yang kamu mau. Kamu pergi, akupun pergi. Kamu datang, aku lebih dari sekedar senang. Jika kamu tak bahagia sepertiku, kamu berhak berlari menjauh dariku. Perkara bagaimana aku, itu urusanku. Aku untukmu ingin selalu menangkan. Tidak perlu dengan banyak hal yang kamu upayakan, tersenyumpun aku sudah cukup riang. Aku melepasmu. Pergilah dengan siapapun yang kamu ingini, sekalipun bukan bersamaku. Bahagiamu sudah cukup mengantarku ke gerbang cerita berikutnya.

Jujur saja. kebaikanmu aku utamakan lebih dari sekedar keinginanku. Entah ini apa, yang ku tau aku tak ingin meminta banyak dari apa yang bisa aku beri.

klik sumber gambar


Terimakasih sudah tersenyum hari itu.
Terimakasih sudah bersedia ada. 
Satu do’a ku terwujud. 
Terimakasih Tuhan, terimakasih kamu !


@shintadutulity 




No comments:

Post a Comment