September 14, 2015

10:03:00 AM 2

You are nothing !

Aku sudah terbiasa bersembunyi dalam kecewa. Kuanggap biasa semua yang hampir menyakiti malah harusnya aku menangis tanpa berniat tertawa. Tapi bagiku kini, apapun biarlah terjadi bagaimana adanya. Aku tak lebih dari mengetahuinya. Tak berniat untuk merasa lalu meratapi dengan air mata. Aku hanya mencukupkan diriku untuk tau adanya. Bagiku tentangmu tak lebih besar dari masa kemarin. Tak kan pernah ada esok yang ku janjikan. Tak pernah ada nanti yang aku titipkan. Jangan hawatir, aku sudah terbiasa. Malah justru lebih kacaupun aku pernah merasa. Kali ini, ulahmu tak memberi efek apa-apa. Aku tetap bisa seperti biasa, tertawa tanpa di reka-reka. Dan bahagia tanpa merasa kamu tak ada.

klik sumber gambar

--------------------------------------------------------
Everybody knew you're a liarEverybody knew you're a playerEverybody knew you're never seriousRisk your love at meAnd i tell you once again baby---------------------------------------------


@shintadutulityumtuk kamu yang gagal menyakiti



September 12, 2015

Heart Journey On Saturday


I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There's nothing left to say but good-bye
You deserve the chance at the kind of love
I'm not sure I'm worthy of
(good bye - air supply )

   ( Lagu yang belakang jadi playlist rutin setiap pagi, siang dan malam. )

_______________________________________________________________________
_______________________________________________________________________


 Aku sedang tak mau banyak bicara. Entah aku kehilangan selera. Mengenai apapun. Aku sedang tak suka becanda. Aku sedang tak suka banyak bicara. Aku ingin diam saja. diamkan saja, aku. Memang aku sedang ingin menikmati sunyi. Sampai merasa benar-benar sendiri. Lalu terjerambab dalam sepi. Yang dulu aku benci karena sepi berhasil menemukanmu. Meskipun kamu sedang asyik di kota berbeda. Aku selalu berhasil menemukanmu. Dan aku tak suka. Tak pernah suka. 
Sekarang aku termakan lagi sepi. Tapi sunyi tak berhasil mengundangmu kembali. Diam tak berhasil membuatmu bicara. Kamu pergi terlalu jauh, atau rasaku yang sudah tak mampu.
Aku rindu. Hingga malam kubiarkan mengoyak semua memori tua. Aku rindu. Hingga mata kubiarkan terjaga begitu saja. Tapi kali ini aneh. Tidak seperti rindu yang bertahun-tahun belakang liar membuat sesak dada. Kali ini lebih lembut. Menyentuh malam. Menggetarkan bibir. Memaparkan doa. Untukmu. 
Aku tak tau apa rasa yang sedang berusaha aku sirnakan. Atau bisa saja aku pertahankan. Yang ku tau, aku tak begitu suka lagi mengingatmu. Aku tak begitu mudah lagi menemukan suaramu. Kamu menghilang. Tapi doa kebaikanmu tetap aku inginkan. Meski aku sudah tak ingin jadi yang engkau inginkan. Aku sudah cukup bahagia, menyediakan waktu malam untuk mendoakanmu. Menjadi wanita yang sepenuhnya ingin melihatmu tersenyum, bahagia. Dengan siapapun atau apapun yang membuatmu bahagia. Aku tak peduli. Asal kamu bahagia, cukup !
Klik Sumber Gambar

And I hope you find it,
What you're looking for
And I hope it's everything you dreamed your life could be
And so much more

And I hope you're happy, wherever you are
( I Hope You're Happy - Miley Cyrus )


__________________________________________________

__________________________________________________

Untuk Hati yang paling mulia.
ketika menjadi pecinta yang tak tau mau apa.
kecuali satu bahagianya yang menjadi tujuan nyata.

@shintadutulity








"Dari hatinya, aku bicara…" 12sept2015 (13:50)



Klik Sumber Gambar


"Dari hatinya, aku bicara…" 12sept2015 (13:50)

          Kita adalah satu. 
          Aku harap ini bukan hanya menurutku. Bukan hanya keyakinanku. Bukan hanya tentang penglihatan mereka saat kita bersama. Aku harap kita benar-benar satu. Sebut saja gagah. Lelaki jawa yang dengan gagah menyentil hidupku yang belakang hampa. Lelaki yang tau tatakrama yang dengan lembut mengajarkanku untuk berdiri lagi, saat sedang jatuh-jatuhnya. Aku fikir, aku hanya sedang terpesona. Kehadirannya yang tanpa sengaja membuatku enggan mengakui adanya. Kehadirannya yang pelan-pelan tak pernah luput dari lingkaran hidupku dalam keadaan susah maupun senang membuatku bergantung padanya. Dia Gagahku, yang benar-benar gagah memapahku. Menuntunku, menunjukkan arah rumah ternyaman untuk kami berdua. 

         Pelan-pelan aku menganggapnya lain, terlebih saat diapun mengutarakan hasrat untuk bersamaku slalu. Taukah, waktu seakan berhenti saat mengetahui Gagahku tersenyum karena ulahku. Taukah, betapa tenangnya aku saat bersandar dibahunya ?

        Selang waktu berlalu. Dan aku sadar, itupun sudah tak berlaku. Gagahku bukan lagi untukku. Aku sudah tak mau tahu apa yang menyebabkan dia pergi, karena nyatanya dia memang sudah tak lagi disini, menyemangati. Aku sudah tak mau ingat lagi cekcok ringan sampai hebat pada malam itu, yang ku tau dia pernah benar-benar tinggal disini. Melakukkannya dengan baik, pecinta yang sangat sempurna. Aku sedang tak ingin mengingat luka, apapun bekas pergimu. Sudah cukup aku menangis meski tanpa air mata. Sudah cukup aku mengecam meski dengan penuh cinta. Aku terlalu bahagia, hingga pergimu benar-benar hampir membuatku gila. Sudah, aku biarkan setahun membawa luka. Biarkan putih dinding menjadi teman setia. Biarkan malam mengais kasih yang sudah tak lagi setia. Aku ijinkan dia pergi. Apapun sebabnya, aku sudah tak ingin ambil hati. Bagiku baik dan buruk, sebabnya tetap mengundang air mata. Aku tak lagi mau tahu apapun dan bagaimanapun cara ia lupa, karena untukku tentang pergimu tak pernah membuatku tertawa.

September 11, 2015

12:22:00 PM 0

Pentingnya Etika

Belakangan ini saya sering menemukan beberapa orang yang becandaannya diluar batas. Atau mungkin kedekatan membuat sebuah etika kesopanan hilang. Contohnya masalah hidup yang jadi bawan becandaan, nagih hutang di sosmed, terus gak ada lagi istilah jaga perasaan orang. Semua dibuat wajar. Saya terheran, saya yang memang kurang bergaul atau terlalu sensitive terhadap situasi di sekitar.  Sekalipun kejadian ini bukan dialami diri saya pribadi, tapi saya merasa sangat unrespect terhadap orang-orang yang sama sekali menurut saya tidak tahu sopan santun.

Ibarat penampilan, tatakrama adalah pakaian kita. Yang dimana jika pakaian kita tertutup, sopan, maka orangpun akan segan berbuat usil terhadap kita, tapi jika penampilan kita urakan, selengean, makan orangpun akan dengan mudah mencemoohkan kita. begitupun dengan tatakrama, semakin kita menjaga sikap, tau batas mana yang boleh dan tidak, tau mana daerah privasi oranglain dan mana daerah umum, tau bagaimana harus bertindak dan bersikap, tau dan mengerti betul batas-batas dalam pergaulan, baik gerak fisik maupun psikisnya, baik lisannya maupun tulisannya. Maka oranglain pun akan segan terhadap kita, menghormati kita, menghargai kita, dan akan berusaha berkomunikasi dengan kitapun dalam bahasa yang baik. Gak mau kan kalo tiba-tiba di ajak ngobrol terus gaya ngobrolnya kayak kenek di terminal ? Gak mau kan di deketin orang terus gaya ngedeketinnya kayak ngedeketin anak malam yang doyan nongkrong di Club ?

Ingat ya gaess, kualitas diri kita adalah urusan kita. berpandai-pandailah dalam hal ini. Karena kualitas diri kita, menentukan bagaimana orang lain akan bersikap (bukan tentang status social).

Ini bukan tentang status sosial seseorang, ini adalah tentang bagaimana seseorang itu pandai mengenakan cover. agar terlihat mewah, menarik, sekalipun mungkin dalamnya dekil atau kusam.

Pertama, saya juga bukan orang berpendidikan tinggi. Saya juga lahir dari keluarga yang penuh dengan kesederhanaan. Tapi sejak kecil, kedua orang tua saya mengajarkan lengket tentang bagaimana harus bersikap. Mengajarkan dengan detailnya batas-batas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Apa kebebasan membuat merekapun bebas bertindak apa saja sekalipun diluar zona haknya ? Apa dalih be your self membuat mereka ogah-ogahan jaga image dan cenderung tidak lagi mementingkan tatakrama ? entah saya tidak begitu faham. Mungkin Jakarta menjadi lingkuran sebab di mana kebebasan menjadi dalih tatakrama pudar.