September 12, 2015

"Dari hatinya, aku bicara…" 12sept2015 (13:50)



Klik Sumber Gambar


"Dari hatinya, aku bicara…" 12sept2015 (13:50)

          Kita adalah satu. 
          Aku harap ini bukan hanya menurutku. Bukan hanya keyakinanku. Bukan hanya tentang penglihatan mereka saat kita bersama. Aku harap kita benar-benar satu. Sebut saja gagah. Lelaki jawa yang dengan gagah menyentil hidupku yang belakang hampa. Lelaki yang tau tatakrama yang dengan lembut mengajarkanku untuk berdiri lagi, saat sedang jatuh-jatuhnya. Aku fikir, aku hanya sedang terpesona. Kehadirannya yang tanpa sengaja membuatku enggan mengakui adanya. Kehadirannya yang pelan-pelan tak pernah luput dari lingkaran hidupku dalam keadaan susah maupun senang membuatku bergantung padanya. Dia Gagahku, yang benar-benar gagah memapahku. Menuntunku, menunjukkan arah rumah ternyaman untuk kami berdua. 

         Pelan-pelan aku menganggapnya lain, terlebih saat diapun mengutarakan hasrat untuk bersamaku slalu. Taukah, waktu seakan berhenti saat mengetahui Gagahku tersenyum karena ulahku. Taukah, betapa tenangnya aku saat bersandar dibahunya ?

        Selang waktu berlalu. Dan aku sadar, itupun sudah tak berlaku. Gagahku bukan lagi untukku. Aku sudah tak mau tahu apa yang menyebabkan dia pergi, karena nyatanya dia memang sudah tak lagi disini, menyemangati. Aku sudah tak mau ingat lagi cekcok ringan sampai hebat pada malam itu, yang ku tau dia pernah benar-benar tinggal disini. Melakukkannya dengan baik, pecinta yang sangat sempurna. Aku sedang tak ingin mengingat luka, apapun bekas pergimu. Sudah cukup aku menangis meski tanpa air mata. Sudah cukup aku mengecam meski dengan penuh cinta. Aku terlalu bahagia, hingga pergimu benar-benar hampir membuatku gila. Sudah, aku biarkan setahun membawa luka. Biarkan putih dinding menjadi teman setia. Biarkan malam mengais kasih yang sudah tak lagi setia. Aku ijinkan dia pergi. Apapun sebabnya, aku sudah tak ingin ambil hati. Bagiku baik dan buruk, sebabnya tetap mengundang air mata. Aku tak lagi mau tahu apapun dan bagaimanapun cara ia lupa, karena untukku tentang pergimu tak pernah membuatku tertawa.


  Kamu pecinta yang baik. Itu yang ku tau.  Kamu selalu ada, nyatanya memang begitu. Meski itu memang terjadi dulu saja. Yang ku tau, kamu selalu hadir membawa tawa. Lalu setelahnya jika luka yang kamu bawa, itu bukan kamu. Bukan kamu yang aku cinta. Karena yang aku cinta tak pernah ingin membuatku mengeluarkan air mata. Kamu adalah pahlawannya. Yang dengan gagah menuntunku dalam badai. Nyatanya memang begitu. Kamu seperti cahaya diantara gelap gulita. Kamu adalah orang yang menyemangati saat aku sedang jatuh-jatuhnya. Lalu jika sekarang justru yang membuatku jatuh adalah kamu, itu bukan kamu. Bukan kamunya yang aku yang senantiasa aku sebut dalam do’a.

 Aku bahagia memilikimu, jikapun sekarang aku terluka karena kehilanganmu, sekali lagi itu bukan keran kamu yang aku kenal.

Kini aku semakin sadar. Kamu memang pecinta yang baik. Paling sempurna diantara barisan lain yang sempat menimbulkan debar berbeda. Meski akhirnya kamu yang paling membuatku terluka. Ah sudahlah,,, aku benar-benar sudah mengijinkannya pergi. Bersama wanita pilihannya. Bersama wanita yang kini menjadi ibu anak-anaknya.

Ini catatan paling objektif. Tanpa luka ketika mengingat masa damai bersama. Meski hanya menonton film berdua sambil mencicipi masakan seadanya. Sekarang aku mulai berani lagi bercerita. Bercerita saja tanpa hasrat ingin mengulang. Bercerita saja tentang pria yang pernah dengan sempurna mencintaiku, bertahan dengan segala egoku. Biarkan aku bercerita tanpa cinta atau luka. Maaf untukmu yang sekarang sedang menggendong bayi perempuan. Aku tidak sedang marah atau dendam, aku sedang membanggakan ayah dari bayi perempuan yang mungkin sekarang masih belum bisa menyebutmu, Ayah. Aku membanggakan cinta dari pria yang sekarang sudah syah jadi imam perempuan sebrang. Sekali lagi izinkan aku bercerita…

Aku bahagia…
Saat pertama kali kamu menemaniku memasak sore itu. Membantuku mengiris bawang merah sambil terpedih-pedih. Iya itu kali pertama kamu memintaku memasak. Rendang. Itu makanan kesukaanmu. Dari jam 2 sore kamu sudah tiba di tempatku. Melepas jaket, dan langsung menyerbuku di dapur. Kamu tak menghiraukan kehadiran oranglain, kamu terlihat nyaman adanya. Sampai akhirnya kebiasaan itu berlangsung setiap akhir pekan.

Aku mulai menerima genggaman tanganmu kemanapun kaki melangkah. Aku mulai terbiasa dengan wangi parfummu. Aku mulai terbiasa dengan aroma bekas rokokmu yang tersisa di bajuku. Aku mulai benar-benar mengenalmu.

Aku nyaman bersamamu…

Yang ku tau itu. Hingga aku sudah tak lagi menyembunyikan rasa sedihku, hingga aku bisa dengan ringan menceritakan masalah hidupku. Aku berbagi semuanya, karena berbagi denganmu membuatku tau, aku tidak sendirian lagi sekarang. Ada kamu. Kamu yang sudah membebaskanku mengecek isi dompetmu. Membawanya, mengangapnya milikku saat kita jalan bersama. Kita benar-benar sudah terbuka. Dan aku benar-benar bahagia.

Kamu pahlawanku..

Itu yang aku sangat-sangat ketahui. Saat jatuhnya aku, dan saat benar-benar sendiri, kamu selalu datang. Lebih dari menyediakan pundak untuk bersandar. Kamu sempurna mengerti setiap marahku. Kamu sempurna mengalah dalam setiap tingginya egoku. Kamu sempurna menunggu dalam setiap ketidakperdulianku. Kamu sempurna mengertiku.

Jadi.. kalau sekarang mereka menghujatmu atas apa yang kamu lakukkan padaku. Jika mereka mengecapmu sebagai lelaki pengkhianat, aku membelamu didepan. Mereka tak pernah tahu, betapa baiknya kamu mencintaiku. Betapa sempurnanya kamu memperlakukanku. Hanya aku yang tahu. Meski sekarang kamu benar-benar sudah tak lagi sama. Kamunya aku, tetap pecinta yang baik. Jika sekarang berkhianat, itu bukan pengkhianatan. Tapi tugas, saat posisi cintaku bukan lagi prioritasmu. Jika aku terluka dan merasa tak lagi di bahagiakan, itu bukan karena kamu sudah membenciku. Tapi karena prioritas bahagiaku sudah bergeser. Terganti dengan gadis lain yang menurutmu lebih baik dan pantas.

Kamu pecinta yang baik. perlukah aku menjelaskan lebih detail tentang kebaikanmu ? hingga mereka mengerti bahwa kamu tak sejahat yang mereka fikir. Meski mungkin ada beberapa hari terakhir yang membuatku akhirnya menyesali pertemuan ini.

Ini hanya tentang tugas. Dan tugasmu ketika mencintaiku sudah cukup baik. Terimakasih sudah pernah mencintaiku. Mempertahanku. Membuatku istimewa. Terimakasih, pria yang sekarang sudah menjadi ayah dari perempuan cantik berinisial  A. 

_______________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________

Terimakasih sudah membaca. Ini hanya kelanjutan tentang cerita gagah. Kisah Kinar yang meminta dilanjutkan. Selamat berbahagia untuk Gagah dan Mawar. Mau tau lebih banyak cuplikan-cuplikan ceritanya baca di sini

Sekarang Kinar sudah Move up, sudah mendapat kehidupan barunya. meski bukan bersama gagah. Gagah tetap tokoh pecinta sempurna yang memiliki dua cinta wanita yang sempurna juga.

salam hangat^^
@shintadutulity





No comments:

Post a Comment