December 25, 2015

Hujan Bulan Desember


Dimulai dari Hujan Januari lalu.....
&
Berakhir...
di... [sini]

Klik sumber gambar

barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.” 
― Sapardi Djoko DamonoHujan Bulan Juni


Hujan Bulan Desember. Ini mungkin akan menjadi catatan terakhir tentang cinta di tahun 2015. Ku harap ini memang yang terakhir. Entah bicara cinta atau apa, bagiku semua sama sekarang. Tidak ada beda. Aku sudah lupa bagaimana rasanya cinta, atau memang aku terlalu menenggelamkan diri untuk lebih mencintai diriku sendiri ?

Hujan Bulan Desember. Bisa saja ini  menjadi catatan rindu terakhirku di tahun 2015. Bersama hujan Desember yang kubiarkan menggali semua kenangan lama yang mulanya aku kubur dan tak pernah ingin aku sentuh lagi. Cinta atau rindu, semua nampak sama. Aku tak begitu lagi mengenali keduanya. Selain bahagia ya aku tertawa, atau selain bersedih lalu kemudian aku menitikkan air mata. Sisanya… Aku biarkan mengalir begitu saja. Seperti air hujan desember ini.


Mungkin Hujan ini berbeda dengan hujan tahun sebelumnya. Dimana mungkin, cinta dan rindu masih lekat aku rasa. Dimana mungkin bahagia dan pilu bisa aku samarkan seiring kepergiaan atau kedatangan cinta itu sendiri. Mungkin aku sedang ingin menutup Desember ini dengan sedikit cinta. Meski nyatanya yang kulihat hanya bayangan dari wajahku sendiri.

Berjalannya waktu yang terus membuatku tumbuh. Membuatku lebih jauh dari hanya sekadar bicara cinta. Sudah enggan rasanya aku bicara kamu. Bukan lupa, tapi jarak memang tercipta seiring waktu. Waktu menyeretku lebih dari sekedar ke perempatan. Lebih jauh lagi. Sampai aku sadar, aku benar-benar sudah tumbuh.

Sekarang, aku mencintai diriku. Sebagaimana dengan semua peristiwa yang tak kubiarkan secuilpun membuat jiwaku rapuh. Sekarang, aku mencintai masadepanku. Sebagaimana tak kubiarkan seorangpun mengganggu apa yang sedang berusaha aku raih. Sekarang, aku menghargai diriku. Sebagaimana tak kubiarkan satu cintapun membuatku lupa akan diriku.


Hujan ini memang sedikit membawa kenangan lalu. Mungkin terbawa angin, tapi aku biarkan. Toh, nantipun akan tersapu  hujan.

Bilamana ini memang layak jadi penutup. Aku tutup dengan seribu syukur. Bilamana ini memang pilihan akhir sekalipun tanpa pernah berani aku memilih, aku tetap akan menjalani ini dengan penuh rasa syukur.

Banyak hal yang aku dapat. Sebagaimana bukan hanya peristiwa kamu saja yang turut serta membuatku bergerak maju. Banyak hal bisa aku syukuri. Sekali mungkin sebelumnya aku sempat merasa sangat tidak bahagia. Bagiku, Cinta hanya sekedar waktu saja. Menunggu waktu untuk terbiasa tanpa, atau menunggu waktu untuk terbiasa ada. Tidak akan lebih dari do’a. Tidak akan pernah lebih dari takdir.

Sekarang aku menulis ini diwaktu senggang sambil menunggu adzan magrib. Diluar mendung, sedikit gerimis. Tak lama hujan akan turun mungkin. Aku meluangkan waktu untuk duduk didepan komputer. Menuangkan isi hati yang sebenarnya sudah tak memiliki maksud istimewa.

Semua berjalan lancar sepanjang tahun 2015. Sekalipun satu rencana gagal berantakan, tapi aku tidak patah begitu saja. Pekerjaanku jauh melesat dari sebelumnya. Pribadiku juga. Lebih bergerak kearah baik. Jauh. Aku kira begitu, ketika aku sadari siapa aku sekarang dan siapa aku setahun belakang.
Aku tetap menjadi aku yang sederhana dan tidak banyak omong ketika bertemu orang baru.
Dan satu yang lebih penting dari semuanya, dari semua omong kosong ini. Aku jauh lebih bahagia sekarang.

Hujan Desember tak pernah mengubah rasa lain (lagi), jika sedikit menyeret masalalu, itu tak akan menjadi apa-apa. Sebab nyatanya, memang aku sudah tumbuh.

Perihal cinta, aku tak begitu ambil pusing. Banyak hal yang harus aku raih di tahun depan. Banyak. Tuhan punya misi lain tentunya. Cinta akan tiba pada saatnya. Lebih dari sekadar mengajarkan luka atau tawa. Kelak, Cinta itu meresmikan dirinya sendiri. Bersama skenario terbaiknya… tanpa cacat. Aku bersedia & siap berbagi segalanya.

Selebihnya, atau sekurang-kurangnya. Aku ingin berjalan dengan bahagia.

Terimakasih 2015.
Terimakasih Hujan Desember.
Terimakasih untuk waktu introspeksi yang panjang.

Terimakasih segalanya.

Aku tumbuh bersama januari, dan kembali saat hujan Desember (nanti).

@shintadutulity
yang tertinggal biar tinggal.
aku tetap ingin bergegas pergi !

No comments:

Post a Comment