December 19, 2015

Perbincangan Desember 2015 tentang Resolusi 2016

Desember 2015. Menginjak pertengahan Desember menjadi alarm tersendiri untuk saya pribadi. Desember yang tinggal tersisa beberapa hari, melampirkan banyak list target yang masih mengantung untuk segera di raih. Januari 2016, benar-benar cambuk keras untuk setiap usaha yang masih gini-gini aja.

Tadi siang saya dan teman saya terlibat obrolan panjang tentang persiapan masadepan. Masa depan dengan segala kemungkinan buruk, juga dana kehidupan yang tak akan mudah apalagi murah. Me-review kembali tentang masa kerja yang panjang dengan apa yang sudah dihasilkan, ini benar-benar menjadi cambuk keras. Kemana perginya semua rupiah yang dihasilkan tidak hanya dengan senyum palsu itu ? Tidak hanya cukup dengan menggadaikan satu menit setiap harinya. Bahkan lebih dari itu. 

Obrolan panjang itu mengarah juga ke perencanaan anggaran di tahun 2016. Tentang daftar-daftar hal yang akan membutuhkan banyak dana ( lagi ) juga segala kemungkinan yang bisa saja tidak terdaftar tapi membutuhkan dana banyak.

Sia-sia. Tidak berbekas. Tidak ada hasil investasi dari dana penghasilan selama ini. Yang ada, semua barang yang hanya memiliki daya jual rongsok. Otak saya berfikir keras. Hidup memang tidak pernah murah. Segala kemungkinan buruk tidak pernah mau memberi jarak toleransi.

Simpulan dari nasehat panjang lebar dari teman dan tante saya sepanjang bulan Desember adalah : Stop Budaya Konsumtif.



________________________________________________________________________________

Budaya konsumtif adalah kebiasaan dimana kita membelanjakan uang tanpa pemikiran rasional, tanpa didasari kebutuhan, semua dilakukan hanya untuk menyokong gaya hidup.




Kembali ke perbincangan Desember yang menjadi cambuk tersendiri bagi saya pribadi. Ya, lingkungan saya bekerja menjadi ruang belajar kedewasaan tersendiri bagi saya. Juga asupan-asupan keras dari tante saya yang terus mengingatkan bahwa, Hidup itu tidak murah, apalagi mudah” membuat  pandangan tersendiri bagi saya. Poin-poinnya seperti ini :

1. Sudahkah  punya Tabungan penyelamat ?

Tabungan penyelamat yang saya maksud disini adalah dana mati yang kita simpan untuk berbagai kemungkinan di masa depan. Baik itu sakit atau untuk kebutuhan tak terduga lain yang benar-benar urgent.

Me            : “Emang berapa mba, aku sih minimal 10jt aja buat jaga-jaga segala kemungkinan”. 
Mba Puji   : “Murah amat neng. Kamu fikir masadepan semurah itu” 
Me            : “Tapi kan aku juga punya cicilan untuk dana invest mba nantinya”. 
Mba Puji   : “Invest beda lagi. Invest biarin bergerak. Tabungan enggak boleh nyestuck. Kamu fikir hidup kamu bakal mulus terus. Optimis banget pengeluaran bakal flat gitu aja". 
Me             : “terus berapa mba?” 
Mba puji    : ” Minimal 50jt”. 
Me             : “ Whaaaatttt ?”
Masih dengan ekspresi melongo. Saya masih sangat-sangat sulit untuk membiasakan diri menabung. Jangankan sampai angka puluhan juta, kisaran hitungan jari-pun butuh pengorbanan luar biasa. Kembali Dia menjelaskan tentang masadepan itu gak murah. Mulai dari rancangan biaya pernikahan, melahirkan, juga biaya duka untuk segala kemungkinan buruk. Hidup memang harus selalu dimulai dengan kemungkinan buruk. Jika manis yang dikecap, itu bonus. Kita tetap harus waspada untuk setiap situasi dan kondisinya.

Benar, tidak bisa dipungkiri, hidup memang akan selalu mahal. Malah seiring bertambahnya usia, bertambah pula kebutuhan. Semua berjalan naik. Lantas bagaimana dengan tabungan ? Sudah dipersiapkan sampai mana ?

Kalo bicara tentang resolusi, semua gencar membuat daftar. Nomor satu sampai sekian tertulis atau setidaknya tergantung didepan langit-langit mimpi. Namun, perjalanan merubah yang sudah jadi kebiasaan itu tidak mudah, pun meraih yang berada diatas tanpa melompat itu mustahil.

Me           : “Tapi kan aku banyak kebutuhan mba. Aku tinggal sendiri disini yang apa-apa sendiri. Kebutuhan aku tuh enggak sedikit.”  
Mba Puji : “ Yang mahal itu kebutuhan apa gaya hidup ?”
Lagi-lagi saya merasa terlempar ke dasar. Jika flashback ke tahun 2011 sampai sekarang, memang sebagian besar adalah pengeluaran gara hidup. Mulai dari mengakrabkan diri dengan suasa mall, rajin hangout sana-sini, rajin mencicipi menu satu resto ke resto lain, sampai lebih berminat membeli barang branded. Ya, itu semua gaya hidup. Tuntutan lingkungan dan kebiasaan yang tidak bisa dikendalikan. Berapa banyak rupiah yang terbuang hanya untuk membeli “zaman”  ? hanya karena takut dibilang “kuper” ? berapa banyak ? Saya tekankan, -Tidak sedikit.

2. Sudahkah ada pemantapan kearah “investasi” ?

Me       : “kalo aku beli itu ( gak bisa disebutkan ), aku susah bagi-bagi uangnya. Cicilan tahun pertama, pasti bener-bener nyekek banget”. 
Tante   : “Terus mau sampe kapan kamu gini ? beli barang-barang enggak jelas. Uang entah kemana. Mendingan susah pas muda, tua bahagia neng”. 
Tante   : “beli tuh hal-hal yang kedepannya prospeknya bagus. Kerja empat tahun masa cuma bisa beli nasi bungkus doang.”
Definisi bekerja bagi tante saya bukan hanya perihal tentang kemampuan kita membiayai hidup ( sandang & pangan ). Tidak hanya terhenti disitu. Tapi definisi bekerja baginya adalah sarana untuk menyiapkan masadepan dengan sebaik baiknya. Memanage segalanya dengan detail. Lebih luas dan lebih panjang dari hanya dana tabungan penyelamat.

Perhitungan bekerja yang sudah menginjak lima tahun bukan lagi mencari dana untuk senang-senang. Semoga saya memang sudah bosan dengan segala bentuk gaya hidup yang belakangan membuat saya menyesal setengah mati.

Jika ditahun pertama, kita banyak menggunakan gaji untuk menuruti ego kita, hal ini tidak lagi berlaku untuh tahun keempat. Mall, barang-barang brended, Hangout tempat-tempat ternama, bukan lagi menjadi tujuan kami (semoga). Ada yang jauh lebih bermanfaat dari itu, ada. Dan smua akan sadar pada waktunya. Saat kehausan “gaya” sudah mencapai titik jenuh. Sekali lagi, semoga saya memang sedang dalam perbaikan kearah sana dan diberi langkah yang istiqomah.

Well, simpulan dari semuanya, saya memerlukan rombak besar-besaran tentang dana pengeluaran. Lalu mengalokasikan sisanya untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat.

Bytheway, makasih mba puji dan tante eli untuk semua advise. Desember kali ini jadi cambukan buat saya. Semoja Januari pantas saya pijaki dengan kaki lebih baik, lebih giat menabung, lebih berani investasi. 

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ 

Yo nabung yo... Yo lebih produktif lagi membelajakan gajimu !

@shintajulianaa

lagi dalam proses penghematan keras. 
lagi dalam proses memperbaiki gaya hidup yang salah.
lagi dalam proses menabung buat anak-anak kita (nanti). #uhuuukk 

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ 



NB : Ini hanya resolusi materi, belum lagi ke arah karakter pribadi yang masih acakadut mirip butiran reginang atau asap damri. Banyak yang harus diperbaiki. 














2 comments:

  1. kita semua tahu semakin tahun bertambah harga semua kebutuhan itu terus meningkat, menyiapkan tabungan untuk masa depan itu bagus tapi bukan berarti kita harus freak dan stress memikirkan masa depan.

    jalani dengan santai saja, nikmati hidup dengan sederhana :D
    sambil sedikit demi sedikit mengurangi aktivitas dan kebutuhan yang tidak perlu

    ReplyDelete
  2. iya hahaa.. maklum lah jiwanya jiwa emak-emak rempong. jadi apa-apa dibikin puyeng.. hihihi

    ReplyDelete