May 19, 2017

3 Alasan Bergabung dengan Komunitas Blogger JAKARTA




logo blogger jakarta


Lagi seneng-senengnya ngeblog. Mood saya belakang ini juga mendukung banget buat nulis hal-hal positif. Lagi bener-bener adem ayem sama situasi dan kondisi.

Minggu kemarin, saya jadi sering stalk akun instagram milik Blogger Perempuan dan Blogger Jakarta Community. Nyari-nyari event yang memungkinkan saya buat join. Nambah-nambah ilmu tentang blogging. Sebenernya saya ngeblog sudah dimulai dari tahun 2011, tapi masih stuck di istilah ngeblog buat diri saya sendiri. Menulis kalo emang mood nya lagi baik, atau memang lagi pengen nulis aja. Nulis hal-hal yang saya suka aja. Lebih tepatnya menulis hanya untuk diri saya saja. Berhenti disitu.

Sampai akhirnya tahun kemarin saya tergerak untuk lebih menulis tentang hal lain. Cerita tidak melulu harus tentang cinta kan ? Maka, tahun kemarin saya melakukan perombakan besar-besaran di blog pribadi saya. Menghapus sebagian tulisan yang terlalu berlebihan dan tetap menyisakan beberapa tulisan yang menurut saya cukup baik untuk dipertahankan. Tapi, seiring berjalannya waktu, mood sayapun kembali down. Blog kembali seperti kuburan tak terurus. Beberapa kali menulis tapi hanya berakhir jadi draft. Ternyata perkembangan saya hanya sebatas perombakan thema blog, gaya bahasa yang digunakan, dan beberapa postingan yang lebih bisa dinikmati bersama. 

May 15, 2017

#Challenges 30 Hari tanpa MEDIA SOSIAL ( DAY-8 : How Lucky You Are.. )

How lucky you are..

Terbesit satu pernyataan yang cukup menampar sabtu malam kemarin. Saat aku terlalu peka buat hal-hal yang tak ku miliki, justru Allah ngasih petunjuk yang mana harusnya aku peluk erat. Yaitu, tentang apa yang sudah Allah berikan dan aku miliki sekarang. Kadang, terlalu mudah bagi kita menghitung berapa poin yang belum kita miliki, ngerasa iri dengan apa yang dimiliki orang lain, memperhitungkan baik buruk diri kita dan bertanya, "Kenapa si gue gak dikasih ini, padahal better gue ya." And well.. kamu sama sekali  berasa merana dan jauh dari rasa syukur.

Saat buka mata, dan liat apa yang sudah aku miliki sekarang. Teman yang banyak, Sahabat yang sangat-sangat baik, Keluarga yang selalu ada dan pekerjaan yang cukup baik. See... How Lucky I'am.

Kadang kita memang cenderung menutup mata dari apa yang sudah kita miliki. Lebih banyak mengekor pada pencapaian orang lain. Padahal, kita juga tak pernah tau, apa yang sudah dia korbankan atas pencapaiannya. Yang kita lakukan hanyalah compare and compare. Padahal hidup ini bukan matematika yang perlu ada pembanding. Misal, saat kita melihat orang-orang yang sukses, yang kita lihat hanyalah rutinitas liburannya yang meyenangkan, keluarganya yang serba tercukupi kebutuhannnya. Apakah kita mau mengerti bagaimana suaminya bekerja keras untuk itu ? Bagaimana suaminya rela pulang larut malam, Bagaimana suaminya rela masuk kerja di tanggal-tanggal merah, Bagaimana dia harus memberi pengertian pada keluarganya saat acara liburan gagal karena ada kerja dadakan. Could you explain it 

Saat kita penuh dengan perasaan terpukau, melihat seorang anak yang cerdas. Mau taukah bahwa banyak dari waktu bermainnya dia gadaikan untuk kecerdasan itu ? Disaat anak-anak lain bermain games, dia harus membelanjakan waktunya dengan les-les tambahan. Saat orang tua yang lain memberikan hadiah-hadiah boneka besar, orang tuanya lebih memilih untuk memberikan buku-buku tebal. Could you explain it?

Jangan sampai, hanya karena satu yang kita mau belum tercapai, lantas menutup nikmat dari lima yang sudah kita dapatkan.

Jangan mudah iri terhadap pencapaian orang lain. Kalo usaha kita belum sebanding, kalo pengorbanan kita belum apa-apa.

Belajarlah untuk melihat semua dari dua sisi. Jangan hanya karena kamu suka satu sisi, jadi  melupakan sisi lainnya.

Dan.. belajarlah untuk bersyukur. Karena kamu beruntung dengan segala nikmat yang tak terhitung apalagi terukur.


Open my eyes, and See.. how lucky I'am have best friend like you !

******
Saat kamu dijadikan salah satu orang tempat berbagi.
Saat kamu dijadikan salah satu orang tempat untuk pulang.
Menjadi orang yang dicari, menjadi orang yang dianggap berharga 
dan adanya kita di syukuri. God, its more than alive. 
******
[Jakarta, 15 Mei 2017 (16:22)]


Untuk kalian semua, kalian beruntung. Sangat beruntung. Saat kalian merasa kurang beruntung, lihatlah kedalam, bukan keluar. Lihat dirimu, apa yang sudah kamu miliki. Jangan melihat keluar, lalu membandingkan kepunyaan orang lain. 

Kamu beruntung. Kamu beruntung dengan segala kekurangan kamu. Dengan segala masalahmu. Dengan segala yang kamu miliki. Kamu beruntung.

@shintajulianaaa
untuk bonita, semoga lancar sampai hari-H ya sama Defri.
dari teman main kelereng 15tahun lalu.

#satuharisatutulisan
#30haritanpasosmed






May 13, 2017

10:00:00 PM 0

#Challenges 30 Hari tanpa MEDIA SOSIAL ( DAY-6 : "KENAPA KAMU DI UNFOLLOW ?" )



KENAPA SIH GUE DI UNFOLLOW ?

           Minggu kemarin, saya sempat melakukan voting ke beberapa teman saya tentang hal-hal apa saja sih yang menyebabkan kamu harus unfollow akun seseorang ?  Agak shocked juga dengan berbagai jawabannya. Diawali dengan motif iseng-iseng berhadiah recehan, mulailah chat sana-sini dengan tujuan menanyakan hal yang sama, "Apa yang bisa menyebabkan kamu harus mengunfollow akun seseorang".  Ini merupakan jawaban dari "kenapa si Kamu di Unfollow?" 

 
Jika dirangkum, kira-kira jawabannya menjadi beberapa poin dibawah ini :

1. Akun yang isinya foto-foto selfi dengan tampilan full face

           Ladies, pasti enggak nyangka banget. Kalo ada beberapa cowok dengan karakter tertentu emang risih ngeliat postingan foto-foto full face yang berlebihan di sosial media. Selain risih, cowok dengan karakter ini, rata-rata termasuk kedalam good man yang emang ada niatan untuk jaga pandangannya.
           Nah, cewek juga pasti agak geli juga kan kalo ngeliat cowok yang doyan banget selfie. Kebanyakan si bilang Yess !
           Tapi, terkadang tangan-tangan usil kita ini, memang pengen banget ngepost muka kita dalam keadaan yang better atau best face. Tujuannya sama; ngeraih pujian. Kalo gak terlalu sering si, its oke ya. Tapi kalo sampe keseringan apalagi ketergantungan, yaa.. hati-hati entar ada yang ilang feeling.
           
Klik Sumber Gambar
2. Akun yang diduga menyebarkan kebencian atau provokasi

         Banyak orang yang berharap masuk keranah sosial media untuk mencari informasi atau mencari hiburan. Namun, seiring banyaknya isu ini dan itu, maka terbentuklah akun-akun pengguna sosmed yang emang demennya nebar-nebar kebencian, provokasi sana-sini, hingga yang timbul ujungnya adalah perasaan gerah.
         Nengok feed di instagram, ada postingan si anu yang hobby-nya nyinyir. Kadang, repost sesuatu yang kebenarannya belum pasti (HOAX). Yang dia like-in, akun-akun frontal yang isinya provokasi. Hm, untuk yang satu ini, wajarlah buat di unfollow.

3. Gak Begitu Kenal

        Dimulai dengan  bisikan, "Hm.. si A, B, C follow dia juga. Jangan-jangan dia adik kelas dulu pas di TK. Follow ajalah ". Eh ternyata, dilihat dengan teliti, kamu sama-sekali gak ngerasa kenal sama dia. Dan kamu termasuk pribadi yang membatasi pertemanan di dunia maya. So, Lets Unfollow  !
        Gak salah kan ? Malah better daripada kita terlalu mengekpose hidup kita tanpa kita tahu siapa yang melahap informasi tentang kita, pasti ada perasaan gak nyaman. Was-was, mengingat kejahatan dunia maya yang lagi marak terjadi belakangan.
        
4. Si Pesimis, Si Piktor (Pikiran Kotor), Si tukang Nyepam

        Karena instragram diperuntukan bagi semua kalangan. Dari mulai anak yang baru bisa bedain mana jempol mana telunjuk, sampe yang doyan nunjuk-nunjuk orang. Jadi merupakan hal yang wajar juga jika instagram dijadikan tempat pertemuan berbagai karakter. Tergantung bagaimana kita memfilternya aja.
       Ada yang risih dengan akun yang isinya caption menyek-menyek. Setiap hari postingnya sedih, pesimis sama hidup kayak abg labil yang baru di putusin.
      Ada yang males dengan akun si Piktor yang doyan posting, atau like sesuatu yang gak pantas. Setiap posting, isi captionnya menggiring kita buat berimajinasi liar.
      Ada juga si tukang nyepam yang doyan banget nyampah di mana-mana.

Setiap pengguna instagram, punya hak sama. Saat kita tidak bisa melarang, atau bahkan mengontrol postingan orang lain, maka lebih baik kita mengontrol tangan kita sendiri. Memilah dan memilih akun-akun mana saja yang pantas di ikuti dan akun mana saja yang pantas di skip.

5. Akun Mantan ( Mantan Gebetan, Pernah suka, Pernah punya harapan dll)

         Nah yang paling banyak voting alasan  mengunfollow akun seseorang, berkaitan dengan mantan. Apalagi kalo mantannya sudah berhasil move on. Cuma orang-orang yang punya mental baja yang masih follow akun mantan. Hehe..
         Alasannya si simpel, ada yang bilang gak mau lagi berhubungan sama hal-hal yang menyangkut doi, ada yang bilang gak kuat ngeliat dia sama yang lain, ada yang bilang pengen memulai hal baru.
        Tapi ada juga yang menanggapi mantan biasa aja di sosial media. Yang cuek bebek ngeliat doi dengan gandengan barunya, yang gak terlalu di ambil hati dengan segala bentuk sindirannya. WOW.. dahsyat ya.
Klik Sumber Gambar


         Nah, itu dia simpulan dari hasil voting  minggu lalu. Terlepas dari semuanya, kembali lagi ke pribadi masing-masing.

Selamat hari sabtu, dan semoga bermanfaat !
       


@shintajulianaaa
#satuharisatutulisan

#30haritanpasosmed

        




May 12, 2017

#Challenges 30 Hari tanpa MEDIA SOSIAL ( DAY-5 : TENTANG KETIDAKPASTIAN )


klik sumber gambar !
 




When You want to ask
Take a lot of explanation
But you know
You are only part of the unquestionable
(@shintajulianaaa, 12 Mei 2017 )

Jangan memberi nyawa pada amarah. Kali ini aku mengalah. Bukan karena kecewa yang tak cukup buat ku marah. Hanya.. aku tak ingin memberinya nyawa dengan drama-drama yang hanya akan memperparah.

Hari-hari tenang yang aku pilih belakangan. Membuat ruang ku cipta semakin terasa renggang, aku yang putuskan untuk mencukupi segala perasaan. Meski memang, mungkin segalanya akan berjalan perlahan. Meski mungkin perasaan tak sepenuhnya terbunuh oleh kekecewaan. Setidaknya.. aku hanya butuh penerimaan. Bukankah, berlari dari kebencian hanya akan membuat kita semakin dekat dengan kebencian itu ? Membawanya pada setiap waktu yang tumbuh di sela aktivitas, membuatnya tetap hidup dalam hari-hari yang kurangkai dengan harapan yang lebih baik. Dan.. aku tau, rasa itu tak akan mati hanya karena aku berlari. Dan.. rindu itu tak akan sirna hanya karena aku tak lagi ingin bertemu kembali . Dan.. kamu tak akan sekejap ku lupa, hanya karena aku sudah terlanjur kecewa.

May 11, 2017

#Challenges 30 Hari tanpa MEDIA SOSIAL ( DAY-4 : TENTANG MENULIS )

Ketika menulis bagiku lebih dari aktivitas membuat tulisan indah. Ketika menulis bagiku lebih dari mengisi waktu luang. Ketika menulis bagiku lebih dari menerjemahkan perasaan. Ketika menulis bagiku lebih dari sekedar pulang. Ketika menulis memberi warna pada setiap cerita, saat itu aku telah berhasil menciptakan dunia.

Proses menulis bagiku seperti ritual. Membutuhkan tenang dan pikiran yang terbuka pada sekitar. Agar kepekaan bisa menangkap lebih banyak warna dari setiap kisah yang ingin kuceritakan. Karena aku ingin menulis yang bukan sekedar menyenangkan tapi menenangkan.

Memasuki usia 23tahun kemarin, aku memfilter banyak hal termasuk mengkotak-kotakan mana yang harus di tuangkan dan mana yang cukup sekedar di rasakan. Aku sedang ingin menulis segala hal-hal yang baik, jika mengenai sesuatu yang burukpun aku ingin disampaikan dengan baik. Lebih membentengi diri untuk tidak mengikuti nafsu, mengekalkan amarah dengan kata-kata yang membabi buta. Aku ingin jika pun marah, marahlah dengan elegan. Tanpa perlu menyakiti lagi banyak orang dengan kata-kata yang tak seharusnya di lontarkan.

Usia memang masih saja jadi batasan. Tapi tanpa batasan, mau jadi apa selain binatang.Usia memang harus selalu jadi pertimbangan, dalam setiap mengambil garis kelakukan.

Kadang.. aku ingin menulis hanya agar aku tenang. Meluapkan berbagai hal tanpa perlu memikirkan bagaimana efek kedepan. Tapi, bukannya tenang.. justru aku dijekar-kejar pertanggungjawaban atas rasa marah yang berlebihan. Apalagi jika diisi sumpah serapah dan kata-kata kasar. Rasanya aura negatif sudah mengental, sulit untuk di cairkan. Karena itu, aku memilih menulis dalam keadaan tenang. Biar isinya lebih bernilai. Kalopun tidak, cukup untuk ku baca lagi agar kembali tenang. Kalo isinya banyak marahnya, banyak negatifnya, ketika dibaca kembali, ya itu lah yang terbaca. Tulisan yang ditulis dengan kebencian, lalu diuraikan dalam kata-kata yang gak baik, enggak mungkin tahun depan berubah jadi tulisan yang ketika membacanya menenangkan bukan ?

Aku suka jalan-jalan ke blog yang isinya cerita sehari-hari yang ringan, tapi nilainya berbobot. Banyak nasehatnya. Aku suka membaca novel yang ketika membacanya, kita bukan hanya sekedar membaca cerita, tapi juga memperoleh pengetahuan. Seperti novel Ika Natassa yang berhasil membuatku melek sama kehidupan metropolis dalam skala internasional. Sama seperti novel Dee Lestari yang membuat kita melek sama kata-kata baru. Sama seperti novel Tere Liye, yang membuat kita sadar karena banyak nasehat-nasehat besar dalam ceritanya yang sederhana.

Ketika menulis adalah proses mengurai permasalahan, maka menulis butuh ketenangan. Agar mampu mendengar suara perasaan. Ketika gegaduh di luar tak bisa diredam, maka lebih baik memberi jeda pada letupannya. Jika hari ini belum tenang, tunggulah.. siapa tau besok apinya sudah padam.

Ketika hidup tak henti-hentinya berkaitan dengan segala permasalahan. Tak henti-hentinya memaksa untuk terus bergerak. Disamping semua itu, permasalahan dan kesulitan memaksa kita untuk terus berkembang. Bukankah kenyamanan tak akan pernah membuat kita berkembang ? Kenyamanan hanya akan meninabobokan, membuat kita terlelap di posisi yang sama; sukar bergerak.

Ketika menulis adalah proses mengenal perasaan. lalu diterjemahkan dalam pengenalan jatidiri yang panjang. Maka menulis bagiku lebih dari sekedar bercerita panjang lebar. Menulis adalah perjalanan meredam gejolak emosi. Menulis adalah proses mengurai permasalahan. Menulis adalah cara meluapkan perasaan dengan cara yang elegan. Maka, tidaklah salah jika aku disini sekarang.Menulis dengan tujuan, semua bisa terurai dengan baik. Dan esok lusa aku membaca kembali, aku melihat tembok-tembok tinggi yang aku bangun untuk menjadi batasan seorang perempuan dengan gejolak perasaannya.

klik sumber gambar
____________________________
You can find me,, 
You can knowing me..
You can see me..
more than when you look my eyes inside.
no other place, except here !
Read with your heart.
Read with your mind.
Read with you soul.
and.. Find me !

Jakarta, 11 Mei 2017 (18:58) 

______________________________


FYI, ini adalah salah satu tulisan dalam memenuhi #CHALLENGES30HARITANPASOSMED !






May 10, 2017

#Challenges 30 Hari tanpa MEDIA SOSIAL ( DAY-3 : MENGENAL SEKOLAH KARAKTER )







Mengenal Sekolah karakter.

       Berhubung dengan adanya challenges 30 hari tanpa media social, saya juga menantang diri saya untuk selalu menambah wawasan atau pengetahuan saya dengan hal-hal baru. Dan di hari ketiga saya tanpa media social ini , waktu luang yang biasa saya gunakan untuk melihat news feed di instagram atau membaca banyak topik di facebook, saya alokasikan untuk mengetahui lebih dalam tentang sekolah karakter.

         Berawal dari obrolan-obrolan ringan memang tak luput dari penambahan wawasan asal kita berani untuk open minded dan tentunya pandai-pandai dalam memilih teman bicara. Seperti saya yang mulai mengenal sekolah karakter dari cerita teman saya yang bekerja di sebuah Yayasan di Jakarta. Bulan yang lalu dia dikirim ke Kalimantan untuk memandu beberapa anak yang mengikuti study tour dari sekolah-sekolah internasional di Jakarta.