June 19, 2017

Sharing Session Bersama Ibu Monica Anggen



Sharing Season bersama Monica anggen
SHARING SESSION BERSAMA IBU MONICA ANGGEN ! !
"Jangan menulis dengan tujuan untuk dibaca orang banyak. Jangan menulis dengan harapan bisa merauk keuntungan. Jangan menulis dengan impian bisa jadi terkenal. Menulislah untuk diri sendiri. Menulislah dengan hati. Jangan jadikan publik dan harapan-harapan lain jadi tembok batas dirimu berkreasi. Mulailah menulis dengan hati untuk dirimu sendiri". Monica Anggen, 18 Juni 2017.
Kemarin, saya mengikuti sharing session yang di adakan Komunitas Blogger Jakarta di salah satu Mall di Bilangan Jakarta Selatan bersama Ibu Monica Anggen. Beliau adalah penulis best seller Gramedia pustaka yang karya-karyanya sudah dinikmati banyak kalangan. Jika kalian mampir ke Toko Buku Gramedia, pasti kalian pernah melihat buku-bukunya mejeng disana. Beberapa buku karyanya yang ramai di pasaran diantaranya; Yakin selamanya jadi pojokan, Enggak usah kebanyakan Teori deh, 99 Cara berfikir ala Sherlock Hormes, dan masih banyak lagi

Mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sharing session langsung bersama orang yang sudah ahli di bidangnya itu menghasilkan perasaan-perasaan lain. Selain rasa kagum dengan karya-karyanya, Kamipun dibuat benar-benar mengerti dengan dunia kepenulisan. Seperti tanpa tiding aling-aling, Bu monica bercerita tentang awal kariernya sampai sekarang.


Dalam hal kesuksesan, dalam bidang apapun memang memerlukan mental sekuat baja. Begitulah simpulan saya, saat mendengar beliau bercerita tentang perjalanan kariernya di dunia kepenulisan. Mulai dari ditolak sepuluh penerbit yang katanya masih kurang banyak, sampai editor yang menyuruhnya menulis ualng berkali-kali.

Jika dirangkumkan, berikut  poin-poin penting dari sharing season kemarin diantara :

1. Tentang Kepenulisan

Menulis itu membutuhkan waktu yang panjang. Seorang penulis bisa saja menghabiskan waktu 2-5 tahun untuk menyelesaikan satu bukunya. Royalty yang didapat seorang penulis hanya 10% dari harga buku ( setiap penerbit punya persentase berbeda ). Jika dinilai dari segi komersil, jelas ini sangat-sangat merugikan pihak penulis. Belum lagi jika 10% itu hanya didapat dari harga buku obralan di pasar tumpah. Bisa dihitungkan berapa keuntungannya. Tapi, jika dilihat dari segi manfaatnya, baik dibeli dengan harga normal di toko-toko buku besar atau pasar tumpah, semua sama. Bukunya tetap bisa dinikmati dan nilai-nilai dari buku itu gak berkurang. Bagi Bu Monica sendiri, persentase itu gak begitu penting, yang penting nilai-nilai dari buku karyanya bisa sampai pada pembaca. Entah lewat Toko buku besar atau pasar tumpah.

2. Tentang Penerbit

Bagi seorang penulis, menemukan penerbit merupakan jembatan dalam dunia kepenulisannya. Seperti yang sudah kita kenal, di Indonesia ini ada dua macam penerbit yakni, Penerbit Mayor dan indie. Yang dimana kedua-duanya ada plus-minusnya.

Untuk Penerbit Mayor, minusnya terletak dari royalty. Sedangkan plusnya adalah kita tidak perlu repot-repot memasarkan buku kita, kita tidak perlu repot-repot mengedit naskah kita. Tidak perlu repot-repot mengatur pengiriman buku kita. Karena untuk marketing, penyebarluasan sampai ke pelosok, dan editing sudah ada yang mengerjakan. Untuk penerbit indie, plusnya adalah tidak akan ada penolakan naskah dan persentase royalty jauh lebih besar daripada penerbit mayor. Hal ini dikarenakan, proses pemasaran dan editing, semua diserahkan kepada penulis. Bagi anda yang sudah percaya diri dengan naskah anda, tidak ada typo, dan sesuai EYD boleh dicoba pake indie. Tapi bagi pemula sangat berisiko.

Bagi yang ingin mengirimkan karyanya ke penerbit mayor, disarankan untuk memahami kebutuhan dari masing-masing penerbit. Caranya adalah dengan melakukan survey pasar. Kebutuhan penerbit Gramedia Pustaka tidak akan sama dengan Erlangga begitupun dengan Bentang Pustaka. Setiap penerbit memiliki tolak ukur tersendiri untuk menentukan buku mana yang layak terbit.

Nah, bagi anda yang mau menerbitkan buku sudah ada gambaran kan, mau pakai pakai penerbit yang mana ?


3. Kiat-kiat menulis

Untuk poin ini, bu Monica sendiri sharing tentang gimana si cara menghadapi writerblock, cara membuat outline, cara meramu sebuah cerita, dan masih banyak lagi. Untuk jenis ini, setiap penulis punya cara berbeda-beda. Tergantung cocoknya yang mana. Bu Monica sendiri memakai trik jalan-jalan santai dulu sambil nyari angin ketika menghadapi writerblock. Untuk outline sendiri, setiap penulis punya langkah-langkah berbeda ketika membuat outline.

Nah, itu dia rangkuman dari sharing session kemarin. Intinya, bagi kalian yang mau menjadi seorang penulis, teruslah menulis. Ini hanya teori. Menjadi penulis adalah profesi, dan menulis adalah sebuah proses. Tidak cukup hanya teori. Yuuk.. Menulis.

Sharing session ini di adakan oleh Komunitas Blogger Jakarta. Bagi kalian yang ingin belajar bersama boleh gabung dengan kami di http://www.bloggerjakarta.or.id//

6 comments:

  1. keren, penjelasan yang sangat akuratif. saya sebagai pendengar setia hanya bisa menyimak dengan seksama, akan tetapi belom bisa mengaplikasikannya. terutama dalam hal menulis sangat malas sekali untuk dilakukan. entah apa yang menyebabkan kemalasan ini hinggap didiri ini.

    #viss ahh. keren juga pembicaranya bu monic anggen yang sudah memiliki buku best seller terbitannya kompasgramedia.

    kapan2 mau palakin bukunya ah heeeheee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay mas oji..
      Seperti nasehat lama, jika kita tidak bisa memberi masukan atau kritikan maka lebih baik jadilah pendengar yang baik. Hahaha... sama juga mas, teorinya udah banyak, tapi tetep aja belum bisa di aplikasikan bener.

      Yoo ah.. next palakin bukunya😂

      Delete
  2. aah kamu buat ya :D keren bisa merangkum sharing season sedetail ini ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Terinspirasi dari postingan mas Yolo kemarenan hahaha

      Delete
  3. Replies
    1. Insyaallah segera..
      Mas robit kapan nerbitin buku ? Buku nikah tapi ? hahaa

      Delete