Aku Rindu

Pelan-pelan bayanganmu membesar

melebar menunggang pikiran, detik ini jua waktu seolah padam

melemparku jauh pada khayal,  kamu tepat di depan bola mataku

Namun bukan hadir sebagai nyata, sekali lagi bayangan.

Khayalanku sudah melalang tanpa kendali, kau berada pada titik dimana aku sudah tak ada niat untuk membuka kalimat baru.

Sudah sekian saja, aku takut kau besar kepala

Jika kebetulan kau menemukan ini, anggap saja kau tak membaca.

aku rindu, syarat makna.

Jakarta, November

Please follow and like us:

Jatuh Hati tak Pernah Salah

Selamat pagi, karena aku menulis ini dipagi hari dengan muka bantal tanpa aksesori. 

Rasa ini sudah tak mampu untuk ku pendam sendiri, termasuk dengan  kalimat-kalimat penenang rasanya sudah tak ada artinya. 

Senja itu,  dibalik temarem lampu kamar yang sudah hidup dari pagi hingga sore, “panggilan masuk dari seorang yang amat ku kenal”.  Orang terdekat tapi berasa jauh karena terbentang jarak dan juga tak pernah sekalipun kami berbagi cerita. Aku tau dia pendiam, dan dia juga tau aku tak mau ikut campur urusan orang lain. Kami dua orang yang ada hubungan darah namun saling tidak peduli dengan cerita masing-masing.

“Aku punya rasa pada seorang pria ucapnya, dan hubungan itu tidak direstui akunya tersedu.” Aku terdiam, bingung mau berkomentar apa. Perlahan, akhirnya dia menjelaskan detail tanpa ku sela. Lagi aku hanya bisa terdiam dan berpikir. Sejujurnya dari dulu aku adalah orang yang selalu mempertanyakan apakah cinta itu ada, apakah cinta itu nyata, benarkah sebesar itu rasanya??. Semua itu selalu bergejolak tanpa aku tau jawabannya, karena  iya aku belum merasakannya.

Singkat cerita, kenapa ini bisa terjadi tanya ku?

“Kamu tau dek, dari dulu aku bagaimana kalaupun kita tidak pernah saling bercerita, tapi kamu pasti tau aku bagaimana. “Iya, aku tau kamu orang yang pendiam dan tak banyak maunya”. ucapku. Tapi kali ini aku sudah tak sanggup ucapnya kembali, apakah salah untuk jatuh cinta? Bukankah kita tidak pernah bisa menebak hati ini akan jatuh kepada siapa? kalau aku boleh memilih aku juga tak mau untuk jatuh cinta kalau akhirnya seperti ini? apa salah ku, dosa ku apa hingga se sulit ini hubungan ku. Dek, bicaralah tuntutnya dalam panggilan yang senja itu di monopoli oleh isakan tangisan dan rintihan. Aku cukup mengerti kali ini kesakitannya.

Begini saja ucapku, kalau memang tak direstui sudahi saja hubungan itu, bukankah restu adalah hal yang utama ucapku.

“Aku tak masalah mengakhiri ucapnya, namun aku punya beberapa pertanyaan untuk di jawab bukan didiamkan.” Jadi apa yang kau alami  tanya ku kembali. “

“Aku tidak tau apa masalahnya hingga kata ya dari mereka susah sekali untuk ku dapat, jangan kan kata ya, sebuah penjelasan aku tidak boleh dengan dia saja tidak. Yang aku dengar mereka hanya membahas ekonomi, membahas keburukan masa lalu seseorang, tanpa penjelasan dan melihat perubahan.” Bukankah kita tau semua orang di hidupnya pernah melakukan kesalahan ucapnya kembali, yang berbeda adalah dia mau untuk memperbaiki.

“Iya itu benar ucapku, tak ada manusia yang langsung bersih, sekali lagi kita hanya manusia pendosa yang tak punya hak untuk menilai orang lain.”

Jadi sekarang bagaimana ucapku, langkah kedepannya bagaimana?

Aku tak tau, aku hanya butuh teman cerita, setidaknya dengan cerita padamu aku lega.

“Kenapa aku, kita bukanlah orang yang dekat untuk berbagi kisah setahu ku.”

Kurasa kau orang yang tepat untukku berbagi, itu saja alasannya. 
Baiklah, karena kau sudah memilih aku, kau boleh cerita apa saja padaku, sebisanya akan kubantu, ya walaupun aku tau bukan kapasitasku untuk memecahkan masalah mu, karena aku tak mau ikut campur lebih jauh.

Senja penuh drama itu mengalir begitu saja, “dulunya dia sahabat abangmu, abang pernah menitipkan aku untuk dijaga olehnya.” Awalnya aku biasa saja, menganggap dia abang juga, tapi begitulah yang terjadi, tanpa kusadari aku jatuh hati, dan diapun begitu. Lambat laun, hubungan kami lebih dari seorang adek kakak, kami punya perasaan  yang tak bisa ditakarkan. Aku berpikir tak akan sulit mendapatkan restu orang tua, karena dia cukup dekat dengan orang dirumah, dan abang sudah berani menitipkan aku padanya. Tapi bom itu membalik padaku, saat abang tau hal itu terjadi, dia marah besar dan sangat membenciku tanpa alasan yang jelas. Tiap hari mukanya masam dan tak mau melihatku sedikitpun. Aku berasa orang asing penggangu dirumah orang tua sendiri. Awalnya hanya abang yang bersikap seperti itu, minggu berikutnya, orang tu dan adik-adik ikut seperti itu. Aku merasa penjahat dirumah sendiri.

“Isaknya belum terhenti.”



To Be Continue


Please follow and like us: